Keberpihakan Media Massa

BUDI RAHMAN HAKIM

Rakyat-Merdeka.co.id - Menayangkan berita itu pilihan dan kebijakan. Itulah aturan main di semua media massa. Owner dan pimpinan media mengambil eran penting dalam soal ini. Dan kepada siapa saja yang ingin ditayang, berbaik-baiklah kepada mereka.

Namun peran penting policy maker di perusahaan media sekarang tidak seberkuasa dulu lagi. Ini karena platform media juga sudah berubah. Media sosial telah mengubah aturan main wajah pemberitaan.

Oleh karena itu, bukan saatnya dan sangat tidak relevan bila media massa, elektronik apalagi cetak, untuk belagu dengan tidak memberi porsi adil dalam memberitakan peristiwa besar. Media yang belagu seperti bisa dihujat netizen.

Sekarang pimpinan media musti peka terhadap suara netizen. Kalau melawan arus, netizen bisa bersatu mengecilkan peran media sosial. Para You Tubers, social media influencer, dan aktivis sosmed bisa mengambil alih penggalangan opini.

Mereka memiliki pasukan cyber sendiri-sendiri. Bergerak dengan cepat. Massif. Dan tidak terkontrol. Arus informasi diatur sedemikian rupa, bergerak seperti air bah bahkan seperti tsunami. Bisa memakan tuannya sendiri.

Media massa dengan demikian, bisa eksis kalau mulai berkolaborasi dengan harmonis dengan warganet. Berdamailah dengan cerdas agar mencerdaskan. Bila pengambil kebijakan di media bodoh maka habislah riwayat media mu.

Kasus 212 adalah contoh nyata para pimpinan media telah bertindak bodoh. Terkesan sekali phobia. Seharusnya mereka tetap proporsional dengan memberi kupasan lebih positif. Bahwa Islam itu agama toleran, cinta damai, dan menjunjung tinggi penghormatan kepada nilai-nilai kebangsaan. Tak perlu mengambil sisi politik praktis yang pragmatis.

RM Video