Mahathir & “Sesuatu”

SUPRATMAN

Rakyat-Merdeka.co.id - Pulang dari Singapura, Mohammad membawa oleh-oleh. Dia membawa kabar baik mengenai air minum yang selama ini mengusiknya. “Singapura mulai melunak soal air minum. Ini perkembangan yang baik,” kata Perdana Menteri Malaysia berusia 93 tahun itu.

Ke Singapura untuk ngurus air minum? Ya. Walau banyak yang dibicarakan dalam pertemuan bilateral dengan PM Singapura Lee Hsien Loong, urusan air menjadi salah satu yang terpenting bagi kedua negara. Urusannya konkret. Ada apa dengan air minum? Selama ini, berdasarkan perjanjian tahun 1962, Singapura berhak menggunakan 250 juta galon per hari air dari Sungai Johor, Malaysia.

Singapura membeli air itu 3 sen per 1.000 galon. Masalahnya… nah, ini yang membuat Mahathir geram, Johor membeli kembali air yang sudah diolah itu seharga 50 sen per 1.000 galon. Air sendiri dibeli sangat mahal. Air seharga itu, juga dijual kepada kapal yang bersandar di Singapura.

Juga untuk pariwisata, termasuk hotel-hotel di Singapura yang banyak dikunjungi wisatawan asing. “Apa-apaan ini. Ini menggelikan. Naikkan harganya sepuluh kali lipat!” tegas Mahathir, Agustus lalu, tiga bulan setelah dia, secara mengejutkan, terpilih sebagai pemimpin tertua di dunia.

Kegeraman Mahathir bukan tanpa alasan. Karena, selama ini, Johor menjual airnya ke wilayah Malaysia lainnya, seharga 30 sen per 1.000 galon. Sepuluh kali lipat lebih mahal dari harga penjualan ke Singapura. “Sekarang Singapura mulai melunak…. Walaupun kami saudara kembar, tapi, paling tidak, salah satunya ada yang menjadi kakak,” kata Mahathir seperti ingin menunjukkan senioritas di antara kedua negara. Bukan sekadar senioritas antar dua pemimpin, tapi juga ingin menunjukkan bahwa “jangan main-main dengan Malaysia”.

Bukan hanya terhadap Singapura dia berani menggebrak. Dengan pemerintah China pun dia ladeni. Mahathir sepertinya ingin menunjukkan bagaimana cara bertindak. Bagaimana menunjukkan ketegasan. Kepada para juniornya. Agustus lalu, Mahathir melakukan perjalanan ke China. Salah satu pesan yang dia bawa: pengaruh China di Malaysia dan Asia Tenggara umumnya, sudah mengkhawatirkan.

Kekhawatiran Mahathir dibuktikan dengan menangguhkan banyak proyek China di Malaysia. Di antaranya, proyek East Coast Rail Link senilai 20 miliar US Dolar. Lalu, proyek Melaka Gateway senilai 10 milar US Dolar. Proyek pipa gas alam senilai 2,5 miliar US Dolar, juga kena getahnya.

Selain itu, proyek Kota Hutan (Forest City) senilai 100 miliar US Dolar, juga dibicarakan ulang. Proyek-proyek tersebut adalah warisan dari pemerintah sebelumnya. Langkah itu dilakukan Mahathir, untuk menjamin bahwa “investasi apa pun, apalagi mega-proyek, harus bersifat transparan dan iklusif”.

Kenapa Malaysia di bawah Mahathir begitu bersemangat dan berani mengacak-acak proyek-proyek lama, bahkan yang bernilai fantastis? Wakil Menteri Pertahanan Malaysia Liew Chin Tong punya jawabannya. Seperti dikatakannya kepada The WorldPost, bahwa investasi apa pun, harus menjamin bahwa penduduk setempat mendapat pekerjaan yang berkualitas.

“Kalau tidak, pada akhirnya, Anda akan menyaksikan timbulnya problem bagi politik dalam negeri,” kata Liew Chin Tong mengingatkan. Mahathir sepertinya ingin menunjukkan “SESUATU”. Dengan huruf besar semua.

RM Video