Kasus Pembunuhan Jurnalis Saudi Jamal Khashoggi

Erdogan Tak Percaya Raja Salman Terlibat

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (Foto: axios.com/Getty Images Europe)

Rakyat-Merdeka.co.id - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan meyakini, dalang pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi adalah pejabat tinggi Saudi. Namun, Erdogan percaya bahwa Raja Salman tak terlibat. Dilansir dari Anadolu, Erdogan menyebut hal itu dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh The Washington Post. Dia menyebut, hasil penyelidikan yang dilakukan tim dari Turki sangat jelas menunjukkan bahwa pembunuhan Khashoggi sudah direncanakan. Ada perintah yang diberikan kepada 18 orang yang kini ditahan Saudi untuk membunuh jurnalis berusia 60 tahun itu.

“Kita tahu bahwa orang-orang itu datang untuk melaksanakan perintah yang diberikan: Bunuh Khashoggi lalu pergi. Akhirnya, kami tahu bahwa perintah untuk membunuh Khashoggi datang dari pejabat tinggi pemerintah Saudi,” kata Erdogan. Namun Presiden Turki mempercayai, bukan Raja Salman yang memerintahkan pembunuhan itu. Erdogan juga meyakini, pembunuhan bukan mencerminkan kebijakan resmi Saudi. “Saya tidak percaya sedikit pun bahwa Raja Salman, Penjaga Dua Masjid Suci, memerintahkan serangan terhadap Khashoggi. Oleh karena itu, saya tidak memiliki alasan untuk percaya bahwa pembunuhan ini mencerminkan kebijakan resmi Arab Saudi,” beber Erdogan.

Ia memastikan, kasus ini tak akan mempengaruhi hubungan Turki dan Saudi. Namun, Istanbul tak akan menutup mata terhadap pembunuhan terencana yang terjadi di negara itu. “Seandainya kekejaman ini terjadi di Amerika Serikat atau di tempat lain, pihak berwenang di negara-negara itu akan sampai ke dasar dari apa yang terjadi,” sindir Erdogan. Dia pun menyayangkan Saudi belum mau bekerja sama secara aktif untuk mengungkap misteri ini. Bahkan, keberadaan jasad Khashoggi sampai saat ini masih misterius. “Sayangnya, pihak berwenang Saudi menolak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu,” kata Erdogan.

Jika Saudi mengungkap kasus itu, lanjutnya, setidaknya  jasad Khashoggi bisa dimakamkan secara layak. Terakhir, Erdogan mengancam siapa pun yang melakukan pembunuhan serupa di masa mendatang. Pembunuhan Khashoggi adalah pelanggaran jelas dan pelanggaran terang-terangan dari Konvensi Wina tentang Hubungan Konsuler. Kegagalan untuk menghukum para pelaku bisa menjadi preseden yang sangat berbahaya. “Jika ada yang mengabaikan peringatan ini, mereka akan menghadapi konsekuensi yang berat,” ancam Presiden Turki.

Dalam perkembangan terakhir penyelidikan selama sebulan mengenai kematian sang wartawan, seorang penasehat Presiden Turki, Yasin Aktay mengatakan kepada surat kabar Hurriyet bahwa jenazah Khashoggi dibuang dengan memecah-belah dan melarutkannya dengan cairan asam.  Sementara pada Kamis (1/11) waktu setempat, jaksa kepala Istanbul mengumumkan Khashoggi tewas dicekik dalam pembunuhan terencana, segera setelah ia memasuki konsulat Arab Saudi di Istanbul pada 2 Oktober silam.

Sebelumnya, Saudi membantah keterlibatan petinggi kerajaan dalam pembunuhan Khashoggi. Operasi yang dilakukan terhadap Khashoggi, di luar pengetahuan Putra Mahkota Muhammad bin Salman dan Raja Salman. Sementara di Amerika Serikat, ratusan seniman, penulis dan aktivis meminta PBB agar turun tangan membuka penyelidikan independen dalam kasus pembunuhan jurnalis Saudi itu. Di antara mereka ada Meryl Streep, JK Rowling, dan Zadie Smith. Mereka menandatangani surat terbuka kepada PBB untuk menyampaikan permintaan itu. Surat terbuka yang ditujukan kepada Sekjen PBB Antonio Guterres itu dibuat tepat di hari perayaan internasional, untuk mengakhiri impunitas atas kejahatan terhadap jurnalis. [OKT]

RM Video