Survei Capres Jokowi & Prabowo Jalan Di Tempat

Capres 01 Joko Widodo di tengah para santri Madrasah Muallimin-Muallimaat Muhammadiyah Yogyakarta, Kamis (6/12). (Foto: Twitter @jokowi_marufaminofficial)

Rakyat-Merdeka.co.id - Dua bulan kampanye, elektabilitas Jokowi-Maruf dan Prabowo-Sandi masih jalan di tempat. Namun, Jokowi tetap ungguli Prabowo dengan selisih 20 persen.

Elektabilitas kedua pasang capres itu turun-naik. Namun, tidak banyak mengubah selisih elektabilitas. Agustus lalu misalnya, elektabilitas Jokowi- Maruf 52,2 persen, disusul Prabowo-Sandi 29,5 persen. Mereka yang masih belum menentukan pilihan, ada di angka 18,3 persen.

Dua bulan berselang atau pada November 2018, elektabilitas keduanya belum banyak berubah. Jokowi-Maruf di angka 53,2 persen dan Prabowo-Sandi naik menjadi 31,2 persen. Mereka yang masih belum menentukan pilihan sebesar 15,6 persen. Peta survei capres itu tertuang dalam laporan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) miliknya Denny JA.

Menurut Peneliti LSI, Rully Akbar, ada beberapa alasan kenapa elektabilitas kedua pasang capres ini masih stagnan. Salah satunya, publik masih belum mendengar program dari dua pasang capres ini. Yang justru lebih sering terdengar adalah isu-isu tak penting seperti omongan sontoloyo, tampang Boyolali, dan sebagainya. Diskursus yang tak banyak berpengaruh pada naik turunnya suara.

Rully menyampaikan, ada dua syarat agar sebuah isu mempunyai efek elektoral. Pertama, isu tersebut didengar di atas 50 persen pemilih. Kedua, isu tersebut memiliki tingkat kesukaan atau tingkat ketidaksukaan di atas 60 persen, dari mereka yang mengaku pernah mendengar isu tersebut. Dari survei yang dilakukan LSI, diketahui ada 6 isu yang punya efek elektoral selama masa kampanye.

Beberapa di antaranya adalah penyelenggaran Asian Games 2018, kunjungan Jokowi ke Gempa Palu, kunjungan Jokowi ke Gempa Lombok, hoaks Ratna Sarumpaet, nilai kurs dolar AS terhadap rupiah, dan pembakaran bendera Tauhid. Dan menurut Rully, isu yang paling tinggi daya elektoralnya adalah kunjungan Jokowi ke korban gempa dan tsunami Palu. Isu ini dikenal 75,5 pemilih.

Soal program, Jokowi juga lebih diuntungkan karena bisa mengenalkan program pemerintah kepada publik. "Beda dengan Prabowo -Sandi, yang kesulitan mempopulerkan programnya untuk dikenal hingga di atas 50 persen," kata Rully.

Berdasarkan hasil survei, terdapat lima program Prabowo-Sandi yang pernah didengar atau diketahui oleh masyarakat. Lima isu itu adalah nasionalisasi  program OK OCE, Gerakan Emas atau Emak-emak dan Anak Minum Susu, menaikkan gaji PNS, dan pengangkatan guru honorer. Hanya saja, program ini belum masif terdengar.

"Rata-rata, di bawah 30 persen yang mengaku pernah mendengar atau mengetahui," ujarnya. Selain itu, lanjut Rully, kelima program ini tidak masuk daftar 10 isu teratas, yang ramai diberitakan media maupun dibicarakan di media sosial.

Pengumpulan data survei LSI Denny JA dilakukan pada 10 hingga 19 November 2018. Metode yang digunakan adalah multistage random sampling, dengan jumlah responden 1.200 orang  Survei dilakukan melalui wawancara tatap muka, menggunakan kuesioner. LSI menyatakan margin of error berada di angka 2,9 persen.

Selain survei, LSI Denny JA juga melakukan riset kualitatif dengan metode FGD, analisis media dan indepth interview. LSI mengklaim dana survei berasal dari pembiayaan mandiri.

Sejak aksi Reuni 212 Minggu lalu, dua kubu berdebat tentang elektabilitas jagoannya masing-masing. Kubu Prabowo menyebut elektabilitas Prabowo-Sandi melejit. Sebaliknya, kubu Jokowi menganggap, elektabilitas jagoannya belum tertandingi. Cawapres KH Ma'ruf Amin mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan strategi untuk menggaet suara dari pemilih yang mengambang atau swing voters.

Dia berharap, strategi ini akan membuat elektabilitas Jokowi-Maruf makin melejit. Bagaimana caranya? Maruf bilang rahasia. "Tidak mungkin dibuka, nanti ketahuan. Tetapi itu menjadi pembahasan intens, bagaimana cara kita mengambil posisi swing voters ini," kata Ma'ruf di kediamannya, Jalan Situbondo, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (6/12).

Sementara, Ketua BPN Prabowo-Sandi Djoko Santoso mengatakan, elektabilitas jagoannya terus menanjak. Bahkan, kata dia, hampir menyamai elektabilitas Jokowi-Maruf. Karena itu, ia optimistis elektabilitas Prabowo-Sandi pada awal tahun nanti bisa menyalip Jokowi-Maruf. "Saat ini jarak (elektabilitas) Prabowo-Sandi hanya terpaut 6 persen lebih kecil. Saya berharap pergantian tahun nanti sudah bisa menyamakan," kata Djoko, di Semarang.

Menurut Djoko, agar bisa menang, tim kampanye mesti harus kerja keras. Ia yakin Prabowo-Sandi akan unggul di Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara. Namun beberapa daerah butuh kerja keras terutama di kantong-kantong suara Jokowi. Seperti Papua, NTT, Bali, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Menurut dia, yang harus dilakukan secara garis besar adalah mempertahankan basis suara Prabowo pada Pilpres 2014. Politikus PDIP Pramono Anung tak percaya jika elektabilitas Jokowi-Maruf akan tersalip. Dia bilang, dari data yang dimilikinya, diketahui elektabilitas Jokowi-Maruf makin menguat. Alasan, kata Pramono, Jokowi sebagai incumbent terus-menerus turun ke lapangan. Selain itu, program-program kebijakannya jelas. Secara keseluruhan mengalami kenaikan yang signifikan. Tapi kami tidak akan umumkan, kata Pramono. Pengamat politik dari UIN Bandung Prof Nanat F Natsir mengatakan, Reuni 212 kemarin sudah memperlihatkan peta pertarungan Pilpres 2019. Dari banyaknya peserta aksi itu diketahui bahwa dukungan untuk adanya perubahan makin bertambah. Menurut dia, aksi ini memang tak secara jelas memberikan dukungan kepada Prabowo-Sandi. BCG

RM Video