Laporan Tak Dicabut

Maaf Prabowo Tak Tutup Kasus Tampang Boyolali

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto (Sumber Foto: HarianBatakpos.com)

Rakyat-Merdeka.co.id - Permintaan maaf Prabowo gegara ‘tampang Boyolali’ belum menyelesaikan masalah. Laporan di Bawaslu maupun kepolisian belum ada yang dicabut. Ada dua laporan terkait ‘tampang Boyolali’ yang dilontarkan Prabowo Subianto di hadapan para pendukungnya, dan kemudian viral di media sosial. Laporan di kepolisian dan laporan di Bawaslu.

Laporan di kepolisian ditujukan kepada Prabowo. Pelapornya adalah masyarakat Boyolali. Sedangkan untuk kasus Bupati Boyolali dilaporkan kubu Prabowo, karena perkataan ‘buruk’nya kepada Prabowo. Sedangkan laporan di Basawlu ditujukan hanya kepada Prabowo Subianto. Sedangkan laporan di Basawlu ditujukan hanya kepada Prabowo Subianto.

Sekjen PDIP Hasto Krisitiyanto, berharap masalah tersebut tak perlu dilanjutkan. Bahkan, dia sudah menelpon langsung Bupati Boyalali Seno Samodro agar mau memaafkan Prabowo.  "Saya langsung hubungi Bupati Boyolali, sudah minta maaf saja, semua damai, bergandengan tangan. Nanti kalau Pak Prabowo datang, sudah kita kasih air dengan (air kelapa muda). Supaya menyegarkan," ungkap Hasto di Kantor DPP PDIP di kawasan Menteng, Jakarta, kemarin. 

Dia pun menampik pihaknya mempolitisasi kasus tersebut. Menurut Hasto, reaksi yang muncul merupakan cara mengingatkan kepada pemimpin untuk menjaga tutur katanya. Bupati Boyolali sempat memimpin demonstrasi menolak Prabowo menyusul pernyataan soal "tampang Boyolali." "Yang kami lakukan adalah pendidikan politik, agar setiap pemimpin itu berdisiplin dalam berbicara, setiap pemimpin itu memahami kebudayaan kita," pungkasnya. 

Namun, Juru Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Inas Nasrullah Zubir menilai permintaan maaf itu bernuansa politis. Ia melihat permintaan maaf itu bukan berasal dari hati nurani terdalam Prabowo untuk mengakui kesalahannya.  "Bukanlah minta maaf yang meluncur dari nuraninya, melainkan minta maaf politis, karena permintaan maaf tersebut dilakukan setelah mengkalkulasi dulu untung ruginya," kata Inas. 

Wakil Sekretaris TKN Jokowi-Ma’ruf, Raja Juli Antoni ikut mempertanyakan mengenai ketulusan dalam permintaan maaf Prabowo tersebut. Hal itu ia pertanyakan karena menurutnya Prabowo baru terlalu sering meminta maaf kepada publik.  "Kemarin baru saja minta maaf, grasa grusu menggoreng isu Ratna Sarumpaet tapi ternyata beliau melakukan kesalahan lagi, minta maaf lagi," kata Antoni. 

Namun Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani memastikan, permintaan maaf capres jagoannya itu tulus. Meskipun, permintaan maaf itu disampaikan melalui video yang diunggah dalam akun Twitter dan Instagram, tapi niatnya sungguh mulia.  Muzani kembali menjelaskan pernyataan Prabowo yang dilakukan di hadapan relawan pendukung tersebut hanya sebatas gurauan. Prabowo, kata dia, justru ingin membela masyarakat Boyolali dari keterasingan dan ketimpangan ekonomi dengan pernyataannya tersebut. 

Sementara itu, Kepala Biro Penerangan Divisi Humas Mabes Polri Dedi Prasetyo mengaku, belum bisa ambil keputusan soal kasus Boyolali. Polri belum bisa menyimpulkan, ada tidaknya perkara pemilu atau umum dalam kasus tersebut. “Kalau sudah masuk pemilu, kami tunggu pemeriksaan yang dilakukan oleh Bawaslu dulu,” kata Dedi di Gedung Mabes Polri, Jakarta, kemarin. 

Direktur Lingkar Madani Ray Rangkuti berpendapat, bila kasus ini mau selesai, harusnya tidak cukup dengan permintaan maaf saja. Semua laporan yang dibuat, harus juga dicabut. “Apakah itu laporan dari kubu Prabowo sendiri maupun laporan dari masyarakat terhadap Prabowo maupun dari kubu Jokowi,” ujar Ray.[HEN]


 

RM Video