Tak Akan Impor Kalau jadi Presiden, Prabowo Dikuliahi JK

Capres-Cawapres nomor urut 02, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. (Foto: FB @PrabowoSubianto)

Rakyat-Merdeka.co.id - Kebijakan pemerintah melakukan impor beras dan jagung, mendapat sorotan dari Prabowo Subianto. Capres nomor urut 02 itu pun berjanji, jika jadi presiden nanti, dia akan membuat Indonesia berdiri di atas kaki sendiri. Sehingga, tak perlu lagi mengimpor apa pun. Prabowo yakin, Indonesia mampu swasembada pangan. Pernyataan ini mengundang banyak tanggapan. Wapres Jusuf Kalla sampai ikutan ngasih "kuliah". JK bilang, dunia membutuhkan perdagangan impor dan ekspor. Tidak bisa suatu negara memenuhi kebutuhannya sendiri, tanpa melakukan impor. “Karena itu, harus mengimpor," kata JK di kantornya, kemarin. Namun, kata JK, untuk membayar impor yang masuk dari negara lain, pemerintah harus mendorong ekspor. Untuk itu, negara harus melakukan impor dan ekspor. 

JK memahami maksud dari pernyataan Prabowo tak perlu melakukan impor, adalah di sektor pangan. JK memastikan, dalam hal ini pemerintah sudah melakukan berbagai upaya mengurangi impor pangan. Salah satunya, meningkatkan produktivitas. Dia juga mengingatkan, impor akan dilakukan tergantung dengan keadaan. "Bahan pangan tergantung kepada luas lahan, tergantung cuaca, tergantung perawatannya, pupuknya dan macam-macam. Walaupun semua (menanam) tapi kalau cuaca jelek, bagaimana? Atau terjadi (badai) el nino. Jadi kita tidak bisa mengatakan tidak akan impor. Kita 'iya' (impor), tapi faktornya banyak," papar JK.

Terkait hal ini, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menganggap janji Prabowo hanya retorika politik. Menurutnya, Presiden Jokowi sudah mengedepankan langkah-langkah strategis, sehingga Indonesia menjadi lebih mandiri dan lebih berdikari. “Nah, kalau berkampanye aja sudah menggantungkan diri pada konsultan asing, itu kan impor. Kalau kita, lebih percaya pada kekuatan sendiri. Mereka sudah percaya pada itu, pada konsultan-konsultan asingnya," kata Hasto. Dia menegaskan, PDIP sudah punya cara agar Indonesia bisa berdiri sendiri soal ekonomi, bukan sekadar beretorika.

Waketum Gerindra Fadli Zon menilai, pernyataan capresnya ihwal janji tak akan impor jika menjadi presiden telah dipelesetkan. "Ini juga banyak dipelesetkan karena kalimat itu tidak diambil secara utuh. Yang dimaksud Pak Prabowo, tentu tidak semuanya," kata Fadli di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, kemarin. Menurut dia, tidak mungkin Indonesia tak mengimpor apa pun,  karena tak mungkin semuanya diproduksi sendiri. 

Fadli mengatakan, yang dimaksud Prabowo adalah tak akan mengimpor komoditas yang bisa diproduksi sendiri. Misalnya, beras. Semestinya Indonesia tidak mengimpor beras karena bisa memproduksi sendiri. "Kita bisa produksi beras, kenapa harus impor? Kita bisa produksi barang lain, komoditas pertanian yang bisa diproduksi di Indonesia, ya jangan impor. Apalagi, impor itu dilakukan secara masif di masa musim panen," kata Fadli. "Itu yang dilakukan konteks pembicaraan Pak Prabowo, kalau kita lihat kalimat utuhnya. Jika diambil sepenggal kemudian di-blow up, orang jadi salah paham. Konteks itu menjadi penting dalam setiap pembicaraan," ujarnya.

Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi,  Djoko Santoso, ikut membela pernyataan Prabowo. Dia menegaskan, Prabowo tak berjanji tak akan melakukan impor, melainkan berupaya agar tak selalu melakukan impor. “Agar tak semudah seperti sekarang untuk impor,” tegas Djoko di Media Center BPN Prabowo-Sandi, Jl Sriwijaya I, Jakarta Selatan, kemarin. Dia bilang, Indonesia memiliki garis pantai yang luas. Karena itu, bila Prabowo terpilih sebagai presiden, akan diusahakan agar ada kebijakan tak impor garam. “Kita itu mata pencarian pertanian, perikanan. Kita usahakanlah. Kita garis pantainya nomor dua di dunia, ya kita usahakan garam. Jangan impor,” ungkap Djoko. [BCG]

RM Video