Kasus Bupati Boyolali, PDIP Pasang Badan

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto (Foto: IG @info_pdiperjuangan)

Aksi demo yang dilakukan Bupati Boyolali Seno Samodro terkait “Tampang Boyolali” dilaporkan ke Bawaslu. Seno juga dilaporkan ke Bareskrim Polri, lantaran memaki Prabowo Subianto dalam bahasa Jawa. Menanggapi pelaporan terhadap kadernya, PDIP pasang badan. Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menilai pelaporan terhadap Seno lebay. “Gugatan yang ditujukan kepada Bupati Boyolali, yang dilakukan pendukung Prabowo, itu berlebihan,” ujarnya dalam keterangan pers, kemarin. Menurut Hasto, seharusnya kasus “Tampang Boyolali” dijadikan pelajaran tentang pentingnya tata krama politik, dan perlunya bagi pemimpin politik memahami kultur budaya bangsanya sendiri. 

Hasto menilai aksi Seno yang ikut berdemo dan memberi pidato adalah hal yang wajar. Apa yang dilakukan Seno adalah untuk mengawal rakyatnya. Apalagi, demonstrasi juga berlangsung tertib dan damai. Aksi Seno juga dinilai Hasto sebagai peringatan bagi Prabowo, agar tak asal bicara. Khususnya soal kemiskinan rakyat. “Apa yang dilakukan adalah sebagai bagian pendidikan politik, untuk disampaikan ke Pak Prabowo agar hati-hati bicara dan jangan eksploitir kemiskinan rakyat, hanya untuk tujuan kekuasaan politik,” tegas Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf.
 
Hasto bilang, seorang pemimpin seharusnya menampilkan gagasan positif yang dapat membuat rakyat bangga. Nah, “tampang Boyolali” yang dilontarkan Prabowo, dinilai Hasto tidak seperti itu. Dalam kontestasi politik yang bermartabat, isu terkait perbedaan kelas antara tampang kaya yang bisa masuk hotel, yang dikontraskan dengan lainnya, sebaiknya tidak perlu dilakukan.  Hasto pun menyebut, gaya keras pidato Prabowo dengan model 'kontrasting' kelas kaya dengan sebaliknya, adalah kemunduran kualitas demokrasi. 

Prabowo harus paham bahwa menjadi petani, pedagang pasar, tukang jamu, bahkan tukang sapu adalah kerja yang bermartabat. selama dilakukan dengan penuh rasa percaya diri. “Hal inilah yang seharusnya dilihat Pak Prabowo. Sayang beliau kurang memahami kultur Timur seperti ini,” keluhnya.  Dia menyindir Prabowo tidak memahami budaya Timur lantaran lama hidup di luar negeri. “Apa yang disampaikan Pak Prabowo, hanya pas dalam budaya Barat. Mungkin karena Pak Prabowo lama hidup di luar negeri, sehingga tidak memahami tepo seliro dalam budaya Jawa, ataupun kurang paham budaya Indonesia, karena masa kecilnya dibesarkan di negara Barat,” sindirnya.

Terpisah, politikus PDIP Eva Sundari menilai umpatan yang dilontarkan Seno, adalah ungkapan kemarahan yang amat sangat lantaran pidato Prabowo. Pidato itu menghina dan men-stigma rakyat Boyolali seolah-olah miskin dan tak bisa masuk ke tempat-tempat mewah. “Seperti ada wilayah miskin, kaya. Kamu miskin, nggak boleh masuk ke Ritz Carlton, tapi ini sebetulnya yang beruntung Ritz Carlton, jadi mesti bijaksana,” kata Eva di Gedung DPR, kemarin.

Untuk diketahui, Seno dilaporkan oleh Tim Advokat Pendukung Prabowo ke Bawaslu RI, Senin (6/11). Dia juga dilaporkan ke Bareskrim Polri oleh seorang warga yang didampingi Tim Advokat Pendukung Prabowo. Alasan pelaporan adalah Seno memaki Prabowo saat demonstrasi aksi bela “Tampang Boyolali”, Minggu (4/11) di Gedung Balai Sidang Mahesa, Boyolali, Jawa Tengah. Saat berpidato, Seno mengucapkan umpatan untuk Prabowo. Demo dilakukan warga Boyolali atas pernyataan Prabowo soal 'tampang Boyolali', yang dikaitkan dengan tidak bisa pergi ke hotel mewah.

Sementara pendukung Prabowo bersikukuh, apa yang disampaikan Capres nomor urut 02 itu biasa saja. Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Djoko Santoso menyebut apa yang dilontarkan Prabowo adalah ungkapan sayang, yang memang sering digunakan para tentara. “Itu kan bahasa interaktif yang kadang tentara tuh dengan bahasa-bahasa gitu tuh, sayang tuh,” ujar Djoko, kemarin.

Menurut Djoko, pernyataan yang sebenarnya menggambarkan ketimpangan ekonomi itu, bisa dimaknai berbeda. Tergantung sudut pandang dan cara berpikir masing-masing individu. “Ya tinggal orang pandang dari mana, kalau dari pergaulan ya biasa saja. Tapi kalau dipolitisir ya gitulah menurut saya, ini tahun politik,” tuturnya. Soal permintaan maaf yang dituntut masyarakat Boyolali, Djoko berseloroh santai, “Ya kalau maaf, maaf sajalah.”

Wakil Ketua DPR Fadli Zon menyebut, Prabowo tak bermaksud menghina rakyat Boyolali. “Harus kita lihat juga, Pak Prabowo terkait Boyolali itu kan sebetulnya sebuah gaya retorik. Tidak ada maksud menghina apalagi maksud menjelekkan,” ujar Fadli di DPR, kemarin. Justru, pernyataan Prabowo itu menunjukkan kedekatan dengan warga Boyolali yang menyaksikan pidatonya. “Berbeda dengan yang tak terlalu akrab, tak terlalu merasa terasosiasi dekat, ya bicaranya jadi formal,” beber Fadli. 

Wapres Jusuf Kalla (JK) mengingatkan semua pihak untuk berhati-hati saat berkampanye, agar tak salah ucap sehingga merugikan diri sendiri. Dia menganalogikannya dengan permainan bulu tangkis. Di mana, ketika pemain berbuat salah, maka lawannya otomatis mendapat poin. “Karena itu, kampanye jangan berbuat salah,” ujar JK di Kantor Wapres, kemarin. 

Terpisah, anggota Bawaslu, Ratna Dewi Pettalolo belum bisa mengatakan apakah Bupati Boyolali melanggar atau tidak, sebelum memberikan penilaian atas peristiwa itu. Ratna mengatakan, hal tersebut masuk dalam kategori pelanggaran kampanye, bila disampaikan oleh peserta atau tim kampanye dan dalam aktivitas kampanye. Jadi, menurutnya, Bawaslu juga perlu mencari tahu apakah Seno masuk tim kampanye. “Apakah dia tim kampanye atau pelaksana kampanye,” ujar Ratna.

Sementara, Polri melakukan koordinasi dengan Bawaslu, mendalami ucapan Seno saat mengikuti aksi protes “Tampang Boyolali” itu. “Ya makanya koordinasi dengan Bawaslu, apakah itu masuk dalam ranah proses unjuk rasa atau bukan, pidana umum apa bukan,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto di Mabes Polri, kemarin. Setyo menyebut, pelaporan tersebut sudah dilimpahkan ke Polda Jawa Tengah. [OKT]

RM Video