Elektabilitas Jokowi Naik Ditolong Kasus Hoaks Ratna Sarumpaet

Ratna Sarumpaet ( Pakai Kacamata) Sumber Foto: Republika

Rakyat-Merdeka.co.id - Kasus hoaks Ratna Sarumpaet, rupanya menolong elektabilitas Jokowi. Naik 1 persen. Sebelumnya, kepuasan masyarakat terhadap kinerja Jokowi sedang merosot. Kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Jokowi, di musim kampanye sekarang ini, turun. Tapi, penurunan kepuasan masyarakat ini tidak lurus terhadap elektabilitas petahana Presiden Jokowi. Keterpilihan Jokowi malah naik 1 persen.

Direktur Eksekutif Survei Y-Publica, Rudi Hartono, memaparkan tingkat kepuasan masyarakat pada pemerintahan Jokowi-JK saat ini sebesar 72,2 persen. Meskipun masih di angka 70-an persen, tingkat kepuasan ini berada di level stagnan. Bahkan dibanding survei sebelumnya, angkanya mengalami penurunan sedikit. Pada Mei 2018 mencapai 72,5 persen dan Agustus 2018 tingkat kepuasannya mencapai 72,9 persen.

Menurunnya kepuasan publik pada pemerintahan Jokowi terlihat dalam penegakan hukum, soal kesehatan, perlindungan HAM, penyediaan lapangan kerja, hingga kebutuhan pasar. Apalagi sejumlah bidang itu selalu dijadikan bahan oleh kubu lawan untuk serang Jokowi. "Ini berkaitan dengan gencarnya narasi yang dibuat oleh kubu oposisi untuk menyerang kelemahan pemerintah di sektor-sektor tersebut," kata Rudi saat rilis survei di Bakoel Coffee, Cikini, Jakarta, kemarin.
  

Ada dua bidang yang mendapat apresiasi publik di bawah 50 persen.  Yakni penciptaan lapangan kerja hanya 45,6 persen dan pemenuhan kebutuhan dasar 45,8 persen. "Dua bidang ini benar-benar digarap oleh oposisi untuk menciptakan narasi yang memperlihatkan kelemahan pemerintah dalam mengurus persoalan ekonomi," ujarnya. Namun dari segi eletabilitas, pasangan Jokowi-Ma'ruf justru alami peningkatan 1 persen. Bila sebelumnya hanya memperoleh 52,7 persen, kini meningkat jadi 53,9 persen.  Koq bisa naik? "Kasus kebohongan publik yang dilakukan oleh Ratna Sarumpaet memiliki efek elektoral, sehingga elektabilitas pasangan capres-cawapres, Jokowi-Ma'ruf naik satu persen," kata Rudi.

Sementara itu di kubu Prabowo-Sandi, justru lektabilitas mereka alami penurunan. Tapi jumlahnya tidak besar, hanya  0,3 persen saja. Sebelumnya 28,6 persen, sekarang turun menjadi 28,3 persen.  "Politik kebohongan justru menjadi bumerang karena sekitar satu persen undecided voter memutuskan untuk memilih Jokowi-Ma'ruf," paparnya. Publik, kata dia, curiga kasus hoaks Sarumpaet tidak berdiri sendiri. Ada indikasi kalau itu bagian dari skenario politik. Apalagi saat kasus kebohongan terjadi, Sarumpaet masih tercatat sebagai salah satu jubir dari Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi.

Mayoritas atau sebesar 81,3 persen mayoritas mengetahui hoaks Sarumpaet dan menganggap itu bagian kebohongan politik," jelas Rudi.  Terkait peta kekuatan capres, dia menyebut Jokowi ungguli Prabowo hampir di seluruh pulau Indonesia. Rinciannya ; Pulau Jawa 54,5 persen, Bali dan Nusa Tenggara 56 persen, Sulawesi 56,3 persen, Kalimantan 59,2 persen, dan paling telak Maluku dan Papua 65,8 persen. "Di pulau-puau tersebut, Jokowi-Maruf unggul rata-rata terpaut di atas 20 persen. Jokowi-Ma'ruf masih kalah di satu pulau, yakni Sumatra, di mana kubu Prabowo-Sandi unggul tipis sebesar 42,6 persen sedangkan Jokowi-Ma'ruf sebesar 40,8 persen," ucap Rudi. Y-Publica menggelar survei tersebut pada 10-20 Oktober 2018.[MHS]

RM Video