Prabowo Banyak Bicara, Banyak Ruginya

Prabowo Subianto, saat napak tilas resolusi jihad di Jawa Timur. (Foto: Facebook @PrabowoSubianto)

Gaya bicara Prabowo Subianto belakangan ini, terus memancing kontroversi. Terutama, saat menegur emak-emak dan soal muka Boyolali. Momen ini pun dimanfaatkan kubu Jokowi untuk menyerang. Pengamat bilang, Prabowo mesti mengevaluasi diri. Jangan sampai, ketika banyak bicara justru makin banyak ruginya.

Di musim kampanye, bukan hanya tempe yang jadi urusan besar. Gaya bicara dan gaya guyon para kandidat pun bisa jadi masalah besar. Apalagi, kalau tak bisa mengaturnya. Bisa dipermasalahkan, dibikin runyam, bahkan bisa sampai berurusan ke polisi. Tengoklah apa yang menimpa Prabowo. Yang dua gaya pidatonya saat bersafari politik di Jawa, jadi bumerang. Dijadikan bahan untuk menyerang oleh lawan politiknya. Dua kejadian yang dimaksud adalah saat Prabowo menegur emak-emak di Ponorogo, Jawa Timur, Kamis (1/11).

Kejadian kedua, terjadi sehari kemudian, saat meresmikan posko pemenangan di Boyolali. Saat itu, Prabowo berguyon tentang tampang Boyolali yang bukan orang kaya. Wapres Jusuf Kalla suatu kali pernah mengatakan. Kampanye itu ibarat bermain bulutangkis. Pemain mendapat poin tak hanya ketika bisa melakukan smash dengan benar. Tapi juga ketika lawan melakukan kesalahan. Karena itu, dalam kampanye,  berbuatlah selalu yang benar. Jangan bikin kesalahan sekecil apa pun. Karena, kesalahan itu bisa digoreng dalam kampanye negatif. Dimanfaatkan untuk mendapat simpati atau antipati dari calon pemilih. Dan itu hal yang biasa dalam kampanye.

Kubu Jokowi-Ma’ruf betul-betul memanfaatkan dua momen ini. Tak hanya simpatisan dan tim kampanyenya yang mendaratkan serangan. Presiden Jokowi saat berbicara di depan Relawan Pengusaha Muda Nasional, kemarin, ikutan menyindir. Kata dia pengusaha itu harus produktif. Harus hijrah dari pesimisme ke optimisme. Bekerja keras. “Dari marah-marah ke sabar. Yang marah-marah, hijrah ke yang sabar. Sabar, tapi kerja keras. Ciri-ciri pengusaha muda di situ. Hijrah dari senang perpecahan, ke persatuan,” kata Jokowi.

Soal tampang Boyolali lebih heboh lagi. Sampai kemarin, linimasa Twitter masih diramaikan dengan tagar #SaveMukaBoyolali. Jumat kemarin, tagar tersebut jadi trending topic alias topik yang paling banyak dikicaukan pengguna Twitter. Tagar ini berisi antara lain sindiran dan kritikan terhadap Prabowo. Malah, ada satu warga Boyolali bernama Dakun, melaporkan Prabowo ke polisi gara-gara pidatonya itu. Dakun menganggap omongan Prabowo itu melecehkan warga Boyolali.

Seharian kemarin, kubu Prabowo-Sandi sibuk mengklarifikasi berbagai serangan tersebut. Mulai dari jubir, ketua timses sampai cawapres Sandiaga Uno bolak-balik mengklarifikasi. Wasekjen Gerindra Andre Rosiade, sampai geleng-geleng kepala melihat serangan ini. Padahal, kata dia, apa yang disampaikan Prabowo adalah guyonan. “Yang digoreng itu, justru saat Pak Prabowo berakrab-akrab diri, bercanda. Bukan substansinya,” kata Andre.

Dia bilang, apa yang disampaikan Prabowo saat itu adalah soal ketimpangan. Banyak masyarakat yang tidak dapat keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan. “Melihat itu, beliau terpanggil untuk membenahi bangsa,” kata Andre. Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Djoko Santoso ikutan angkat bicara. Mengomentari gaya Prabowo saat menegur emak-emak di Ponorogo. Dia bilang, saat itu Prabowo tidak marah. “Dia sedang mengendalikan suasana saja. Biar kondisi acaranya bisa menjadi lebih tertib,” kata Djoko dalam keterangan tertulis, kemarin.

Djoko menjelaskan, saat itu, Prabowo berupaya mengendalikan situasi. Menurutnya, ini merupakan contoh sikap pemimpin yang baik. “Pemimpin kan harus pegang kendali agar suasananya lebih tertib. Nah, Prabowo sedang melakukan hal demikian, pada saat itu,” tutur Djoko. Sandiaga Uno, kemarin ikutan angkat suara. Cawapres Prabowo itu mengatakan, omongan soal“tampang Boyolali” adalah guyonan. Esensinya ialah fenomena ketimpangan dan kesenjangan sosial.

Terkait hal ini, Pengamat Politik Universitas Paramadina Hendri Satrio dari awal memang sudah mewanti-wanti kepada Prabowo. Agar melakukan perubahan. Tak hanya gaya dan isi pidatonya, tapi juga gaya berpakaiannya. Menurut dia, orang bosan melihat Prabowo dari 2014 dengan pakaian yang itu-itu saja.
Selain itu, CEO lembaga survei politik Kedai Kopi ini juga menyarankan agar Prabowo mengubah isi pidatonya. Prabowo kerap berbicara soal kekayaan negeri yang bocor. Dan sudah dilakukan dari 2014. Kata dia, jangan sampai, ketika Prabowo banyak bicara justru malah merugikan. Banyak pemilih yang kabur seperti pada 2014.

“Gaya dan pesan komunikasi ini yang harus diubah. Kalau hanya gitu-gitu saja, orang akan bingung dan malas, karena kok tidak ada solusi yang lebih presisi untuk melakukan itu,” kata Hendri. Dia bilang, dua capres sudah paham bahwa permasalahan terbesar negeri ini saat ini masih tentang ekonomi. Yaitu harga-harga bahan pokok, barang, listrik kemudian BBM. Selanjutnya, soal lapangan kerja. “Bicaralah soal itu. Tapi dengan gaya komunikasi yang baik,” tutur Hendri.

Pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia Ujang Komarudin bilang, dalam budaya politik dan kultur politik Indonesia, warga masih merindukan tokoh-tokoh yang berbudaya, beretika tinggi, santun dan sopan. Karena itu ia menyarankan Prabowo lebih santun, elegan, dan memberikan hal positif pada masyarakat. Gaya konfrontatif dianggap tak akan menguntungkan Prabowo. “Jika itu terus dikembangkan Prabowo, paling tidak ia mendapatkan simpati dari masyarakat luas,” kata Ujang. [BCG]

RM Video