Setelah Cari Korban Lion Air

Penyelam Hisap Oksigen Murni Di Ruang Tekanan Udara Tinggi

Perawat memasang masker kepada penyelam saat melakukan terapi hiperbarik di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. (Fumber Foto: Achmad Lathif Rosyidi/RM)

Para penyelam yang mencari korban dan pesawat Lion Air PK-LQP rute Jakarta-Pangkal Pinang di Tanjung Karawang, Jawa Barat, dihantui penyakit dekompresi. Untuk mencegahnya, Rumah Sakit (RS) Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur menyediakan terapi hiperbarik. Selasa (6/11) siang, Ruang Hiperbarik di RS Polri sedang ramai. Lima penyelam yang berasal dari Direktorat Polisi Air (Ditpolair) Baharkam Polri duduk santai di kursi. Mereka bersiap-siap memasuki ruangan berukuran 2x7 meter untuk proses terapi hiperbarik. Terapi ini dilakukan dengan menghirup oksigen murni 100 persen di dalam ruang udara bertekanan tinggi.

Sebelum memasuki ruang berbentuk bulat panjang itu, lima penyelam harus mengganti pakaian mereka dengan kimono biru yang ujungnya berwarna kuning. Seragam tersebut harus dikenakan selama proses terapi. Selanjutnya, Kepala Ruang Hiperbarik, Intan Sitorus memberikan penjelasan singkat kepada seluruh peserta sebelum proses terapi dilakukan. “Terapi dilakukan selama 2 jam.Setengah jam pertama, istirahat 5 menit, setengah jam kedua istirahat 5 menit, setengah jam ketiga istirahat 5 menit,” terang Intan kepada lima penyelam.

Setelah mendengar penjelasan singkat, mereka lantas memasuki ruangan bercat putih itu satu persatu.  Di dalamnya sudah tersedia enam kursi berwarna biru. Di setiap kursi tersedia selang-selang hitam yang menjuntai dari atas. Selang itu digunakan untuk mengalirkan oksigen dan dihirup para peserta terapi hiperbarik. Setelah selang terpasang di setiap peserta, selanjutnya ruangtersebut ditutup rapat. Takketinggalan satu perawat ikut berjaga di dalam ruangan bertekanan tinggi itu. “Harus ada perawat yang mendampingi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujar Intan. Selama proses terapi hiperbarik, perawat yang ikut di dalam akan memastikan para penyelam menjalani terapi dengan benar.

Terapi diawali dengan 15 menit penyesuaian, dimana para penyelam akan merasakan seperti saat sedang turun ke dalam laut. “Awalnya ada rasa tidak nyaman. Peserta kemudian menghirupoksigen murni 100 persen dari hidung dan mengeluarkannya lewat mulut agar racun-racun yang ada di dalam tubuh bisa dibersihkan,” ucap Intan kembali.

Selama dua jam proses terapi, para perawat terus memantau para peserta melalui monitor komputer yang berada di samping chamber atau ruang terapi. Di dalam ruangan tersebut terpasang empat kamera untuk mengawasi jalannya terapi. “Kami ingin pastikan, terapi sesuai dengan prosedur,” tandas Intan. Ruang terapi hiperbarik lokasinya berada di tengah-tengah RS Polri Kramat Jati. Letaknya berada persis di belakang ruang VIP Dr Nango. Setelah menyusuri beberapa saat, kemudian bertemu ruangan yang bertuliskan “Ruang Hiperbarik”.

Spanduk bertuliskan, “Selamat datang personel Dit Pol Air Baharkam Polri untuk melaksanakan terapi hiperbarik guna menunjang operasi SAR kecelakaan pesawat Lion Air JT 610”, dipasang tepat di depan ruangan. “Saat ini sudah ada sekitar 30 penyelam yang sudah melakukan terapi di sini,” sebut Intan.

Masuk ke dalam ruangan, terdapat satu petugas yang berjaga-jaga tepat di balik pintu. Petugas tersebut akan mendata peserta terapi yang datang. Sembari menunggu, tersedia beberapa sofa empuk dan beberapa air mineral yang bisa dimanfaatkan peserta. Hawa dingin ruangan membuat suasana nyaman.

“Sebelum terapi, peserta harus janjian dulu dengan petugas agar tidak menunggu lama. Soalnya, terapinya dua jam,” saran dia. Intan mengatakan, sebelum mengikuti terapi hiperbarik ada beberapa tahapan yang harus dilakukan. Pertama, pasien akan konsultasi dengan dokter THT (telinga, hidung, tenggorokan) untuk melihat anatomi telinga agar mampu melewati tahap ekualisasi dengan baik. Kedua, pemeriksaan toraks (daerah pada tubuh manusia yang berada di antara leher dan perut) dan rontgen untuk melihat anatomi paru-paru.

Selanjutnya, cek gula darah. Sebab, pemberian oksigen lebih dari 100 persen secara terus menerus bisa menyebabkan gula darah turun.Setelah ketiga sesi tersebut disetujui, kemudian akan dilaksanakan pemeriksaan fisik oleh dokter jaga. Terakhir, perawat akan memeriksa tensi, nadi, sertasuhu penyelam.

“Kami toleran dengan tensi 150/90. Di atas itu terapi tidak dianjutkan,” ujarnya. Selama proses terapi, kata Intan, para penyelam dilarang membawa handphone, jam tangan, barang berbahan logam, serta emas. Pasalnya, barang-barang tersebut bisa berbahaya bila masuk ke dalam ruangan bertekanan tinggi. “Seluruh barang tersebut harus disimpan di loker yang tersedia,” saran dia. Intan menjelaskan, beberapa tahapan dalam proses terapi hiperbarik.

Pada 15 menit pertama, peserta akan menyesuaikan suasana dan tekanan seperti di bawah laut. “Sedikit tidak nyaman pada telinga. Itulah fungsinya konsul ke THT,” ujarnya. Bila telah mencapai tekanan udara seperti pada kedalaman 14 meter, para penyelam akan dipasangi masker dan menghirup oksigen dari hidung yang dikeluarkan dari mulut selayaknya berada di dalam air. “Proses tersebut berlangsung selama setengah jam dengan istirahat 5 menit. Setengah jam kedua berlangsung istirahat 5 menit. Setengah jam ketiga, naik lagi ke atas permukaan, terapi hiperbarik sudah selesai,” jelas Intan. [TIF]

RM Video