TPST Bantargebang Penuh Tiga Tahun Lagi

Percepat Bangun 4 ITF Pengolahan Sampah DKI

TPST Bantargebang (Sumber Foto: BeritaSatu.com)

Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, diperkirakan hanya bisa bertahan tiga tahun lagi. Sebab, saat ini di lahan 110 hektare itu sudah menggunung. Dipenuhi 39 juta ton sampah. Ketinggiannya sudah mencapai 40 meter. Belum lagi, volume sampah setiap tahun bertambah sebanyak 400 ton. Dengan bertambahnya volume sampah ini sangat mempengaruhi kapasitas lima zona yang ada. Kelima zona ini tidak akan mampu menampung sampah dalam tiga tahun ke depan.

Makanya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus melakukan upaya penekanan volume sampah di rumah tangga. Misalnya, memperdayakan sejumlah bank sampah yang tersebar di sejumlah kecamatan. Cara-cara ini harus dilakukan agar volume sampah bisa teratasi. “Kapasitas maksimum di TPST Bantargebang 49 juta ton. Hanya tersisa kapasitas 10 juta ton di sana,” ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Isnawa Adji, saat rapat pimpinan di Balaikota, Jakarta Pusat.

Jika volume sampah masuk ke Bantargebang 7.000 ton setiap hari, umur TPST Bantargebang diperkirakan hanya tinggal tiga tahun lagi. Artinya, pada 2021, TPST Bantargebang tidak bisa digunakan. Untuk memperpanjang umur TPST Bantar Gebang, ada dua cara yang bisa dilakukan. Pertama menambah lahan. Kedua, mengurangi volume sampah yang dibuang ke sana. Upaya sederhana yang dikerjakan untuk mengurangi volume sampah ke TPST Bantargebang dengan mengkampanyekan pengurangan kantong plastik. Karena kantung plastik itu jumlahnya 40 persen dari sampah di Jakarta.

Upaya lain yang akan dilakukan adalah membuat tempat pembuangan sampah berkapasitas 100 ton di tiap kecamatan di Jakarta. Yang paling penting adalah membangun fasilitas pengolahan sampah terpadu alias Intermediate Treatment Facility (ITF) di Sunter, Jakarta Utara, dan wilayah lainnya.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan akan mempercepat rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah ITF Sunter, Jakarta Utara. Anies berharap akhir tahun ini proses pembangunan sudah berjalan. Atau paling telat awal tahun 2019 bisa groundbreaking. Ketua Fraksi Nasdem DPRD DKI Jakarta, Bestari Barus mengatakan, Pemprov DKI Jakarta sebenarnya mampu membangun empat ITF, agar sampah DKI tertangani lebih baik.

“Seharusnya ITF ada empat, untuk mengantisipasi tumpukan sampah ke depannya. Kalau saat ini kan kapasitasnya (1 ITF) cuma 2.000 ton,” ujar Bestari Barus, di Jakarta. Menurut Bestari, DKI memiliki APBD yang melimpah ruah, bahkan sebagian anggaran tidak bisa dibelanjakan. Silpa (sisa lebih penggunaan anggaran) APBD DKI tahun ini mencapai Rp 13 triliun, karena tak terserap dengan baik. 

Kepala Unit TPST Bantargebang Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto mengungkapkan, setiap tahun volume sampah bertambah. Makanya dipastikan kondisi TPST overload. Apalagi menghadapi musim hujan, ini jadi momen paling besar penambahan volume sampah. Asep mengungkapkan, pengolahan sampah di TPST Bantargebang masih memanfaatkan sistem penumpukkan konvensional. Harusnya, sistem sudah berganti yang lebih modern. Rencananya ke depan, sistem yang akan dipakai adalah sanitary landfill. Sayangnya, saat ini masih dalam tahapan lelang.[FAQ]

RM Video