Amerika & China Gencatan Senjata

Kinerja Ekspor Kita Bisa Bergairah Lagi

Ekonom Insitute For Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara. (Foto: IG @bhimayudhistira)

Rakyat-Merdeka.co.id - Kesepakatan Amerika Serikat (AS) dan China untuk menahan diri dalam rivalitas perang dagang dinilai akan memberikan angin segar untuk perekonomian. Kinerja ekspor Indonesia berpotensi kembali normal.

Ekonom Insitute For Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara menilai, kesepakatan AS dan China, tidak menambah tarif baru ekspor-impor pada tahun depan, sebenarnya tidak terlalu menggembirakan. Karena tarif lama yang sudah terlanjur dinaikkan, tetap berlaku. Namun demikian, kesepakatan tersebut sedikit lumayan melegakan ketimbang rivalitas terus berlangsung.

“Sisi positif untuk Indonesia, meredanya perang dagang, kinerja ekspor kita ke kedua negara bisa kembali normal. Khususnya untuk ekspor bahan baku industri manufaktur. Selain itu, harga beberapa komoditas seperti minyak sawit bisa terangkat lagi,”ungkap Bhima kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Kesepakatan AS dan China tidak menambah tarif dagang baru pada 2019 dihasilkan dari pertemuan Antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dalam acara makan malam selama 2,5 jam di sela-sela pertemuan negara G-20 di Buenos Aires, Argentina, sabtu (1/12).

Dikutip dari Reuters, selain kesepakatan soal tarif, dalam pertemuan, China disebutkan akan membeli produk pertanian, energi, industri dan berbagai produk dari AS untuk mengurangi defisit perdagangan antar kedua negara. Hanya saja belum ada kesepakatan konkrit dari rencana itu. Kedua negara bersepakat akan melanjutkan pembicaraan dalam batas waktu 90 hari ke depan. Selain membahas hambatan tarif, kedua negara akan membahas pemaksaan transfer teknologi, perlindungan kekayaan intelektual, gangguan dan pencurian cyber. Jika tidak ada titik temu selama “gencatan senjata”, AS kabarnya akan kembali mengeluarkan kenaikan tarif lanjutan.

Di luar dampak perang dagang, Bhima mendorong pemerintah menggenjot ekspor minyak nabati dan produk laut ke China. “Pasokan kedelai AS ke China turun 98 persen. China juga sedang membutuhkan pasokan seafood dalam jumlah besar. Ini tentu kesempatan yang bisa dibicarakan dengan China, termasuk kemungkinan mereka melakukan relokasi pabrik,” ujar Bhima.
 Selanjutnya 

RM Video