Jatuhnya JT610

Rontoknya Maskapai Favorit Kelas Bawah

PUING-PUING JT610: Petugas Basarnas mengevakuasi puing-puing pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh di perairan Laut Utara Karawang, di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, kemarin. Ada juga barang-barang korban yang dikumpulkan. (Foto: Dwi Pambudo/Rakyat Merdeka)

Rakyat-Merdeka.co.id - Kabar duka datang dari dunia transportasi udara kita. Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT-610 jatuh di Laut Karawang, hanya 13 menit setelah lepas landas. Maskapai favorit kelas bawah ini pun kembali rontok. Pesawat Lion Air JT-610 yang terbang dari Bandara Soekarno-Hatta (Soetta)  pukul 06.20 menuju Pangkalpinang, tiba-tiba hilang kontak dengan menara ATC pada pukul 06.33 WIB. Kontak terakhir terjadi di koordinat S 5'49.052" E 107' 06.628", sekitar Karawang, Jawa Barat. 

Basarnas (Badan SAR Nasional)  kemudian memastikan pesawat itu jatuh. Pesawat yang membawa 189 penumpang itu jatuh di dekat fasilitas anak usaha PT Pertamina, Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ). Beberapa petugas PHE di lapangan melihat adanya puing-puing pesawat, serta kursi duduk penumpang yang mengapung di laut.  Basarnas langsung bergerak menuju ke lokasi. Dibantu berbagai pihak, di antaranya Pol Airud dan nelayan, mereka menyisir lokasi. Para penyelam diterjunkan.  

Di sana, mereka menemukan sejumlah barang milik penumpang pesawat. Mulai dari tas, koper, dompet, serpihan handphone, seragam merah milik pramugari Lion, hingga potongan tubuh. Potongan tubuh ini dimasukkan dalam kantong jenazah. Sore hari, tujuh kantong potongan tubuh korban dibawa ke RS Polri di Kramatjati, Jakarta Timur, untuk diidentifikasi oleh tim DVI (Disaster Victim Investigation)  Polri.  Basarnas pun memperkirakan tak ada korban selamat dalam peristiwa naas itu. 

Direktur Operasional Basarnas Brigjen TNI (Mar) Bambang Suryo Aji mengatakan, perkiraan itu didasari pada situasi lapangan dan temuan jenazah. “Apalagi, ini sudah beberapa jam. Korban yang 189 orang kemungkinan meninggal semua,” kata Bambang dalam konferensi pers di kantor Basarnas, kemarin. 

Saat hilang kontak, pesawat berada pada ketinggian 2.500 kaki. Basarnas pun memperkirakan pesawat jatuh dari ketinggian 2.500-3.000 kaki, atau 914,4 meter. Itu yang membuat pesawat pecah dan menyebabkan tubuh korban terpotong-potong.  Dia memperkirakan, banyak korban yang masih berada di badan pesawat. Soalnya, sejak pagi hingga sore mencari, hanya beberapa potongan tubuh korban yang berhasil ditemukan. 

Badan pesawat sendiri, hingga kemarin malam, belum berhasil ditemukan. Baru puing-puing dan ekor pesawat yang berhasil ditemukan. Basarnas memperkirakan pesawat berada di kedalaman 30-35 meter. Kendala yang dihadapi dalam upaya pencarian adalah lumpur dan avtur. Penyelaman dihentikan dan akan kembali dilanjutkan pukul 7 pagi ini. Tetapi pencarian dengan kapal terus dilakukan 24 jam nonstop. 

Hingga kemarin, belum jelas apa penyebab kecelakaan itu. Pesawat Boeing 737 MAX 8 yang jatuh itu, baru berusia sekitar dua bulan. Pesawat pabrikan AS itu mulai dioperasikan Lion pada 15 Agustus 2018. Pesawat ini baru mencatat 800 jam penerbangan. Cuaca saat itu, mengutip BMKG, juga bagus. Lalu, apa kira-kira penyebabnya? 

Yang pasti, Direktur Utama AirNav Indonesia Novie Riyanto menyebut, pilot Lion Air JT 610 sempat meminta  return to base (RTB) atau kembali ke Bandara Soetta. Permintaan dilakukan tak lama setelah pesawat yang dikemudikan pilot Capt Bhavye Suneja itu lepas landas. Namun, setelah diizinkan kembali, pesawat itu hilang kontak.

Terpisah, Presiden Direktur Lion Air Group Edward Sirait mengatakan, pesawat JT 610 terakhir terbang dari Denpasar, Bali, menuju Cengkareng. Edward mengakui pesawat itu sebelumnya mengalami kerusakan. “Memang ada laporan mengenai masalah teknis. Masalah teknis ini sudah dikerjakan sesuai dengan prosedur maintenance, yang dikeluarkan pabrikan pesawat. Saya tidak tahu persis apa masalah teknisnya. Tapi saya pikir, mengenai ini, nanti biarlah instansi berwenang yang menggali apa yang terjadi. Tapi saya yakinkan, pesawat ini dirilis terbang oleh engineer kami,” bebernya. 

Pemberian izin ini bukan perkara sembarangan, lantaran teknisi yang memberi izin adalah mereka yang sudah mendapat sertifikat dari Kementerian Perhubungan. “Di dalam pesawat (juga) ada engineer, ikut dia terbang, berarti kan dia meyakinkan pesawatnya layak terbang,” tegas Edward. Dengan jargon “We Make People Fly”, Lion Air adalah pelopor penerbangan murah di Indonesia.

Saat ini, armada yang dioperasikan mencapai 112 pesawat yang terbagi dalam beberapa tipe seperti Boeing 747-400, Boeing 737-800, Boeing 737-900 ER, dan Airbus A330-300. Pembelian armada pesawat terbangnya pernah menjadi pembicaraan di kalangan penerbangan internasional, karena jumlahnya yang lebih dari 600 unit. Saat ini, Lion Air telah terbang ke-183 rute penerbangan baik domestik maupun internasional seperti Singapura, Malaysia, Saudi Arabia hingga China.

Dengan harga tiket murah, tak heran maskapai ini diminati “kelas bawah”. Bayangkan saja. Untuk ke Yogyakarta, berdasarkan situs Google Flight, tiket Lion cuma sekitar Rp350 ribu-an. Bandingkan dengan Garuda Indonesia yang membanderol tiket hampir Rp1,2 juta.  Karena itu, maskapai milik Rusdi Kirana ini merajai pasar domestik. Hal itu disampaikan Menteri Pariwisata, Arief Yahya usai membuka Lion Air Group Expodition 2018, Maret tahun ini. Arief mengatakan, 53 persen penjualan tiket pesawat domestik dihasilkan oleh Lion. 

Edward Sirait menyebut ada lima rute yang paling “gemuk” alias dengan penjualan tertinggi. Kelimanya yakni Jakarta-Denpasar, Balikpapan, Medan, Makasar, dan Surabaya. Sehari, maskapai ini 18 kali ke Medan dan Makasar, serta 14 kali ke Surabaya. Tetapi, ada harga ada rupa. Lion kerap bermasalah. Hampir setiap tahun, maskapai ini kerap mengalami berbagai insiden. Mulai dari gagal lepas landas, pesawat tergelincir, hingga pecah ban. 

Maskapai ini juga pernah jatuh ke perairan Pantai Segara di Bali pada 2013 lalu. Saat itu, pesawat Lion jenis Boeing 737-800 NG terbang dari Bandung ke Denpasar. Beruntung 101 penumpang dan 7 awak kapal selamat. Lion Air  juga kerap kena sanksi dari Kemenhub. Pada Februari 2015, Lion diganjar sanksi gara-gara keterlambatan penerbangan yang menyebabkan penumpang terlantar. Sanksi kembali diterima Lion ketika pada Mei 2016 pilot-pilot mereka melakukan aksi mogok yang menyebabkan delay penerbangan.

Sementara pada 2017, sedikitnya terjadi dua insiden, yakni bahan  bakar tumpah dan penundaan jadwal penerbangan di beberapa bandara. Lagi-lagi, kasus ini membuat delay dan penumpukan penumpang di bandara. Pada 2018, Lion ditegur Kemenhub karena memberikan mikrofon pesawat atau peralatan Public Announcement (PA) untuk digunakan Neno Warisman yang ditolak hadir di Pekanbaru, Riau.

Koordinator Kaukus Masyarakat Pengguna Jasa Penerbangan (KMPJP), Haris Rusli menilai peristiwa jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 rute Jakarta-Pangkal Pinang, membuat buram dunia penerbangan Indonesia.  Menurut Haris, ini menambah daftar cacat Lion dalam dunia penerbangan. “Banyak sekali track record Lion Air yang secara kinerja, penerapan Flight Safety masih sangat di bawah standar baik dari sistem flight crew training seperti pelatihan mandatory simulator bagi Pilot,” keluhnya dalam keterangan tertulis, kemarin. 

Dia pun meminta KNKT menyelidiki sistem maintenance dari pesawat-pesawat Lion Air, apakah air safety regulation-nya sudah sesuai aturan atau belum. Misalnya, perlakuan terhadap spare part pesawat yang sudah expired. Apakah langsung diganti atau tidak. “Ini perlu di-check semua pesawat Lion Air, dan harus di-grounded terlebih dahulu semua armada pesawat Lion Air oleh Kementerian Perhubungan,” tegasnya. 

Beratnya beban biaya operasional pada usaha penerbangan, kata Haris lagi, juga bisa jadi sebagai penyebab lalai atau mengurangi persyaratan untuk penerapan Flight Safety pada Lion Air. Nilai tukar rupiah yang melemah hingga 15 ribuan per USD, tentu punya pengaruh besar dengan Keuangan Lion Air. Sebab, hampir 90 persen komponen biaya operasional dalam US dollar. Sementara, tiket dijual dengan rupiah yang tak bisa sesuai dengan biaya operasional Lion Air yang sangat murah dibandingkan airlines lainnya. “Jjika harga tarif tiket Lion naik, maka masyarakat lebih memilih Garuda Indonesia,” beber Haris.

Dia pun meminta Kemenhub tak lagi memberikan kemudahan-kemudahan bagi Lion Air, jika dalam pengoperasiannya, maskapai tersebut tidak atau kurang memenuhi standar Flight Safety. “Karena akan banyak lagi incident dan accident yang terjadi pada penerbangan Lion Air, jika pemerintah tidak melakukan inspeksi terhadap pesawat Lion Air dan sistem crew training-nya,” tandasnya

Pengurus Harian YLKI, Sudaryatmo menyebutkan tarif murah yang diterapkan diduga menjadi penyebab Lion Air kerap bermasalah. “Tarif murah sebenarnya menguntungkan konsumen. Tapi, di sisi lain, tarif murah juga menimbulkan pertanyaan, apakah industri pesawat itu dikelola secara baik?” ujarnya. Sudaryatmo menjelaskan, jika tarif murah dipasang Lion Air karena persaingan tidak sehat, hal tersebut mengancam kelangsungan industri penerbangan itu. Seharusnya ,tarif tiket pesawat dibuat rasional agar keselamatan penumpang dapat terjamin. 

Selain tarif, indikator lainnya terkait manajemen PT Lion Air adalah penundaan penerbangan dan durasi antrian saat lapor diri (check in) yang terlalu lama. Serta, insiden penerbangan pesawat terbang Lion Air yang telah berkali-kali terjadi. “Kementerian Perhubungan seharusnya memberi peringatan kepada maskapai penerbangan, yang ketepatan waktu keberangkatannya di bawah 75 persen. Check in kadang sampai 30 menit, itu jauh dari kata standar pelayanan. Mengenai angka kecelakaan, saya kurang tahu angka pastinya. Tapi, itu harus diminimalisir,” tandas Sudaryatmo.[OKT]
 

RM Video