Sulawesi Tengah Makin Pulih

ESDM Rutin Kirim Peta Rawan Bencana

Petugas PT PLN (Persero) tampak memperbaiki jaringan listrik yang rusak di Mamboro, Palu Utara, Sulawesi Tengah beberapa waktu lalu. Pascagempa bumi dan tsunami yang melanda Palu, Sigi dan Donggala, kini kelistrikan wilayah Sulawesi Tengah telah pulih.

Rakyat-Merdeka.co.id - Pemerintah bergerak cepat memulihkan pelayanan di sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Kota Palu dan sekitarnya pascagempa bumi dan tsunami. Hasilnya, sudah dirasakan masyarakat. Seluruh kekuatan sektor ESDM dikerahkan untuk membantu melakukan pemulihan. Tim Rescue ESDM, di bawah koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bahu-membahu melakukan evakuasi. 

Lebih dari seribu relawan PT PLN dan PT Pertamina juga bergerak memulihkan pasokan listrik dan BBM. Bantuan logistik, alat berat dan medis dari seluruh stakeholder ESDM juga berduyun-duyun dikirimkan ke lokasi bencana. Saat ini, pasokan listrik dan BBM di wilayah terdampak gempa bumi telah pulih. Tak heran, Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola menyampaikan apresiasi tak terkira atas peran sektor ESDM dalam proses pemulihan di wilayahnya. 

“Terima kasih Pak Menteri ESDM dan jajaran atas bantuannya, atas perannya dalam membantu memulihkan masyarakat Sulteng ini. ESDM hadir di semua sektor, tim juga terlibat di semua lini, di antaranya air bersih dan medis. Masalah Bahan Bakar Minyak (BBM) sudah teratasi. Masalah listrik, alhamdullillah hampir 100% selesai. Kami atas nama warga Palu sangat-sangat berterima kasih, Terutama dukungan alat-alat berat, membantu memperbaiki infrastruktur yang ada. Luar biasa bantuan dan dukungan dengan jajaran dan mitranya,” ungkap Longki di Posko Siaga Bencana ESDM, Jumat (19/10).

Menteri ESDM Ignasius Jonan memberikan perhatian khusus terhadap  posisi geografis Indonesia, yang berada di antara tiga lempeng besar dunia dan terus aktif. Kenyataan bahwa Indonesia merupakan wilayah yang rawan bencana gempa bumi, tak dapat dielakkan lagi. Upaya yang dapat dilakukan adalah mengurangi risiko bencana jika terjadi gempa bumi atau mitigasi bencana gempa bumi. 

Untuk itu, Jonan menekankan bahwa rencana tata ruang di seluruh wilayah Indonesia, harus ditinjau kembali untuk memetakan wilayah mana saja yang terklasifikasikan dalam wilayah rawan bencana geologi. Hal ini penting dilakukan demi memastikan daerah-daerah yang layak dijadikan hunian tempat tinggal. “Dengan adanya otonomi daerah dan penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang diserahkan kepada Pemerintah daerah/kota, perlu peninjauan secara saintifik atau keilmuan daerah mana yang bisa digunakan untuk hunian manusia dalam berbagai kegiatan,” tegas Jonan, Jumat (12/10) lalu.

Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gempa Bumi dan Tsunami yang diterbitkan Badan Geologi Kementerian ESDM, sejatinya telah disampaikan secara rutin oleh Kementerian ESDM kepada seluruh pemerintah daerah, sehingga penataan ruang juga hendaknya berbasis kebencanaan. Termasuk, semua infrastruktur bangunan harus mempertimbangkan aspek kegempaan. Ini salah satu upaya mitigasi pengurangan risiko bencana geologi.

“Kita tidak pernah tahu kapan terjadinya gempa ataupun bencana geologi lainnya. Secara keilmuan, tidak bisa dipastikan. Agar dapat meminimalisir korban, maka perlu dilakukan mitigasi sehingga aman untuk masyarakat,” lanjut Jonan. Sumber gempa bumi tidak dapat dihilangkan atau dikurangi. Dengan kata lain, ancaman (hazard) bersifat permanen. Sehingga, upaya yang dilakukan adalah dengan memetakan dan mengklasifikasikan tingkat kerawanan
suatu wilayah terhadap guncangan gempa bumi, yang hasilnya disajikan dalam bentuk Peta KRB Gempa Bumi dan Tsunami. 

Peta KRB disusun berdasarkan data dan informasi hasil kajian ilmiah, serta teknik pemodelan bahaya gempa bumi dan tsunami yang andal. Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Rudy Suhendar menjelaskan, Badan Geologi senantiasa melakukan upaya mitigasi bencana dengan memetakan daerah yang pernah terjadi tsunami,  yang disajikan dalam peta rawan gempa bumi dan tsunami. Peta KRB Gempa Bumi dan Tsunami secara rutin disampaikan kepada seluruh pemerintah daerah. 

Rudy mengungkapkan, terkait gempa yang terjadi di Provinsi Sulawesi Tengah, Badan Geologi telah membuat Peta KRB Gempa Bumi Provinsi Sulawesi Tengah, Peta KRB Tsunami Teluk Palu dan Peta Mikrozonasi Gempa bumi Palu. Berdasarkan Peta KRB Gempa bumi yang diterbitkan Badan Geologi tersebut, wilayah terdampak di Provinsi Sulawesi Tengah termasuk kategori KRB Tinggi dan Menengah.

“KRB Tinggi mempunyai potensi terguncang gempa bumi, dengan intensitas lebih besar dari VIII Modified Mercalli Intensity (MMI). Intensitas lebih besar dari VIII MMI di antaranya dicirikan dengan tanah terbelah, tanah longsor di tiap-tiap sungai dan di tanah-tanah yang curam, bangunan-bangunan hanya sedikit yang tetap berdiri, jembatan rusak, terjadi lembah,” jelas Rudy.

Terkait  kejadian bencana geologi yang terjadi di Sulawesi Tengah, Rudy menjelaskan perlunya penataan tata ruang baru untuk rehabilitasi rekonstruksi, untuk itu diperlukan perubahan tata ruang dengan memasukkan rekomendasi Badan Geologi yang baru. Berdasarkan beberapa hasil pemetaan yang diterima, Rudy menerangkan bahwa wilayah Palu masih bisa dibangun.

“Kecuali di daerah-daerah yang sudah terjadi likuifaksi, khususnya di tiga lokasi Petobo, Balaroa dan Jono Oge,” imbuh Rudi, Rabu (24/10). Saat ini, Badan Geologi terus melakukan pemetaan wilayah yang aman untuk dijadikan hunian dan daerah yang tidak aman.  Khususnya, yang terkait dengan likuifaksi. Tujuannya, agar wilayah dengan potensi likuifaksi tinggi, likuifaksi sedang, dan likuifaksinya rendah dapat dilokalisir.

“Nanti, kami dengan teman-teman Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) merumuskan apa yang harus dilakukan. Bangunan apa yang cocok di daerah likuifaksi tinggi, bangunan apa yang cocok di likuifaksi sedang, dan bangunan apa yang cocok di lokasi yang likuifaksinya rendah atau sangat rendah. Jadi Palu masih bisa bangkit, masih bisa terbangun, masih ada lokasi yang sifatnya aman terhadap likuifaksi,” tandas Rudy. ■
 

RM Video