Soal Penghitungan Hasil Produksi Padi

Firman Subagyo Dorong Pemerintah Libatkan Kementan

Anggota Komisi IV DPR Firman Subagyo mendorong pemerintah agar tetap melibatkan Kementerian Pertanian (Kementan) dalam menghitung hasil produksi padi. Sebab Kementan merupakan pihak terdepan yang mengetahui kondisi lapangan. “Yang paling tahu mengenai produksi padi itu petani. Dan, petani itu kan di bawah Kementerian Pertanian. Ibaratnya, untuk tahu rasa sate enak atau nggak, maka tanyanya ke pedagang sate, bukan pedagang pisang goreng,” kata Firman.

Firman mengingatkan, perbaikan metode hitung BPS tidak menjamin data yang disajikan akurat. Sebab, kebijakan pemerintah menetapkan data BPS sebagai acuan resmi, membuat pihak-pihak berkepentingan berupaya menyetir atau mengacaukan pengumpulan data. “Bagaimana nanti, kalau data yang disajikan BPS menyebutkan hasil panen disebutkan terus menurun?,” ungkapnya.

Terkait hal tersebut, anggota Komisi IV DPR Fauzi Amro meminta, pemerintah mensosialisasikan metode baru penghitungan produksi padi. Menurutnya, sosialisasi sangat penting, agar semua memahami dan bisa menerima data perberasan. Penyempurnaan penghitungan data perberasan, harus bisa membuat kebijakan perberasan menjadi lebih terpadu. “Kebijakan sudah diresmikan langsung oleh Wakil Presiden. Data BPS harus dijadikan pijakan dalam mengambil kebijakan nasional,” katanya.

Sementara itu, Ekonom Universitas Indonesia (UI) Lana Soelistianingsih meminta semua pihak legowo dengan penunjukan data BPS sebagai data acuan. “Semua harus menerima hasil penghitungan BPS. Dengan demikian, semua pihak bisa menyusun kebijakan dan langkah tepat untuk ke depannya,” ungkapnya. Lana berharap, dengan pengitungan data BPS yang lebih baik, harga beras bisa lebih stabil. “Harga beras jangan lompat-lompat, jangan nggak stabil. Itu kan kebutuhan pangan mendasar,” ungkapnya. 

Sekretaris Jenderal Perpadi (Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras) Burhanuddin menilai, hasil penghitungan BPS sudah cukup akurat. Hal itu sesuai dengan kondisi di lapangan bahwa pasokan beras memang minim. Menurutnya, saat ini harga gabah akan cenderung naik. Karena, permintaan lebih tinggi dari produksi. “Di lapangan berlaku mekanisme pasar, (pengusaha) berebut gabah petani. Kecuali, produksi gabah tinggi, harga (gabah) pasti akan turun,” katanya.[KPJ]

RM Video