Tampil Di Forum Carta Politica

Menteri Jonan Lancarkan Diplomasi Sawit Di Vatikan

BERBINCANG AKRAB: Menteri ESDM Ignasius Jonan tampak berbicara akrab dengan Menteri Luar Negeri Vatikan Kardinal Parolin. Keduanya tampil sebagai pembicara dalam diskusi yang digelar Carita Politica di Vatikan. (Foto: Kartika Sari/Rakyat Merdeka)

Rakyat-Merdeka.co.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan, tak mau menyia-nyiakan kunjungan kerjanya ke Roma, Italia, untuk mensosialisasikan program Energi Baru dan Terbarukan (EBT) atau renewable energy yang sedang gencar digalakan pemerintah Indonesia. Salah satunya, Jonan melancarkan diplomasi sawit.

Usai courtesy call dengan Pemimpin Umat dan Gereja Katolik tertinggi di dunia, Paus Fransiskus, di Vatikan dan bertemu sejumlah pimpinan perusahaan listrik dan minyak dan gas bumi (migas), petang harinya, Jonan tampil sebagai pembicara utama dalam forum Carita Politica, lembaga think tank internasional bidang lingkungan hidup yang dibentuk Vatikan.  Seminar yang digelar digelar di Ruang Pio XI, Piazza San Calisto, Vatikan itu, dipandu oleh Prof Alfredo Luciani, pendiri dan Presiden Carita Politica.

BISIK-BISIK: Menteri ESDM Ignasius Jonan (tengah) berbincang serius dengan Dubes Indonesia untuk Vatikan Antonius Agus Sriyono (kedua kiri) saat tampil sebagai pembicara dalam Forum Carita Politica di Vatikan, Rabu (7/11). Pembicara lainnya adalah Kepala Kantor Vatikan Kardinal Don Attilio Riva (kedua kanan). Diskusi dipandu Prof Alfredo Luciani, pendiri dan Presiden Carita Politica (kanan). Foto: Kartika Sari/Rakyat Merdeka

Menurut Dubes Indonesia untuk Vatikan Antonius Agus Suryono, Jonan adalah orang pertama dari Indonesia yang tampil di Forum Carita Politica, lembaga yang berpengaruh atas kebijakan lingkungan di Eropa. Termasuk isu minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO), batubara, perubahan iklim dan lainnya. Didampingi Dubes Sriyono dan Direktur Bioenergi Kementerian ESDM Andriah Feby Misna, Jonan tampil sebagai pembicara dengan topik: “Fueling the Nation by Sustainable Renewable Energy”. 

Dalam paparannya, Jonan menjelaskan kebijakan dan komitmen pemerintah Indonesia untuk menerapkan green energy. Salah satunya, upaya Indonesia untuk menggenjot penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) serta berkelanjutan adalah dengan menerapkan teknologi energi B20. “Kami sudah mulai menerapkan penggunaan energi B20. Pertanyaannya ke depan, apakah Indonesia akan menggunakan energi B30 atau lebih di masa mendatang, untuk menekan polusi dan menghemat devisa valuta asing,” katanya.

Jonan memaparkan presentasinya sambil menampilkan slide di layar. Sekitar 100 orang memenuhi ruangan tempat diskusi berlangsung. Jonan menjelaskan, Indonesia juga menggunakan CPO untuk memproduksi listrik. “Besok pagi (Kamis), saya akan pergi ke Napoli untuk melihat power plant (pembangkit listrik) yang  100 persen dijalankan dengan CPO,” jelasnya.

Paparan mantan Dirut PT Kereta Api Indonesia (KAI) itu, berhasil memukau para hadirin yang hadir. Jonan menegaskan komitmen pemerintah Indonesia untk meningkatkan penggunaan biodiesel, yang dikenal sebagai energi ramah lingkungan, yang diolah dari CPO. Sebagai informasi, pemerintah Indonesia sudah memulai penggunaan biodiesel sebagai campuran dalam solar sebanyak 5 persen (B5) dari tahun 2010. 

Nah, sejak Januari 2016, penggunaan biodiesel sebagai campuran solar sudah mencapai 20 persen (B20). Untuk itu, pada September 2018, pemerintah membuat kebijakan untuk meningkatkan penggunaan B20 secara masif dan tidak terbatas pada Public Service Obligation (PSO) saja. “Penggunaan biodiesel ini selain untuk mengurangi bahan bakar diesel impor, juga guna menjaga defisit transaksi berjalan, menghemat biaya valuta asing, serta meningkatkan konsumsi biodiesel domestik,” urai Menteri Jonan. 

Pada kesempatan itu, Jonan juga menjelaskan tentang rencana pemerintah Indonesia untuk menerapkan kebijakan mobil listrik. “Pasar otomotif Indonesia sudah sekian lama didominasi oleh produk Jepang. Dan kami akan segera beralih menggunakan mobil listrik secepatnya. Ini juga penting untuk mengurangi polusi,” ujar Jonan.

Usai menyampaikan presentasi, Jonan memutarkan video mengenai bagaimana upaya pemerintah Indonesia di bawah pimpinan Presiden Jokowi, menerapkan kebijakan energi berkeadilan lewat program BBM satu harga, program elektrifikasi dari Sabang sampai Merauke dan dari Miangas sampai Pulau Rote. Para hadirin, terutama yang berasal dari Italia, tampak serius menonton video yang diputar Jonan.

“Lewat forum ini, kita minimal bisa membaca pandangan para pembicara dari Eropa tentang dasar moralitas terhadap kebijakan lingkungan. Apalagi tekanan terhadap CPO Indonesia juga datang dari pandangan-pandangan di Carta Politica dan mungkin berikutnya mengenai isu batubara,” kata mantan Menteri Perhubungan itu.

Ketua Umum Asosiasi Biofuel Indonesia (APROBI) MP Tumanggor, yang ikut dalam dalam delegasi kunjungan ini, mengaku senang dan puas dengan pemaparan Menteri Jonan. “Paparan Pak Menteri tadi sangat bagus. Ini namanya diplomasi sawit. Setelah mendengarkan paran Pak Menteri Jonan di Carita Politica yang cukup disegani dan berpengaruh di Uni Eropa, kami dari Jajaran Pengurus APROBI mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, atas dukungan penuh Bapak Menteri terhadap Sawit Indonesia. Kiranya, melalui upaya Bapak Jonan ini, industri sawit Indonesia bertambah maju,” kata Tumanggor.

Tumanggor mengatakan, dia sangat mengapresiasi paparan Menteri Jonan terhadap sawit Indonesia mengenai pengembangan biodiesel. Khususnya, rencana PT PLN (Persero) untuk menggunakan CPO. “Dengan adanya kebijakan beliau, tentunya akan dapat menyerap CPO cukup besar. Beliau juga tadi memaparkan rencana menerapkan B30  pada 2020 mendatang. Kami sebenarnya menginginkan April 2019,” harap Tumanggor.

Selain Jonan, pembicara lain yang tampil dalam diskusi itu antara lain Kepala Kantor Vatikan Kardinal Don Attilio Riva, Presiden BNL- BNP Paribas Group Prof Luigi Abete dan CEO Terna Dr Luigi Ferraris. Tampil sebagai pembicara terakhir, Menteri Luar Negeri Vatikan Kardinal Pietro Parolin. Sebagai penutup diskusi, Dubes Agus Sriyono mengucapkan terima kasih atas digelarnya forum dialog ini. 

“Indonesia  adalah negara yang besar dengan multi-etnis, budaya dan agama. Kami sangat senang bisa berdialog dan bertukar pandangan dalam forum ini. Karena tanpa dialog, sulit buat kita untuk menyatukan pandangan dan persepsi yang berbeda atas beragam isu,” ujar Dubes Sriyono. [TIK]

RM Video