Jokowi Ingin Nabok

"....Itu Aidit, Kok Saya Ada Di Bawahnya..."

Presiden Jokowi dalam acara "Penyerahan Sertipikat Tanah Untuk Rakyat" di Gedung Lapangan Tenis Indoor Gunung Sugih, Kabupaten Lampung Tengah, Jumat (23/11). (Foto: IG @kementerian.atrbpn)

Rakyat-Merdeka.co.id - Tak cukup sekali, dua kali, tiga kali, empat kali, Presiden Jokowi menepis dirinya tak ada kaitan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Tidak mendukung PKI. Bukan juga bagian dari PKI. Sanggahan terbaru soal PKI ini disampaikannya saat berkunjung ke Lampung, Jumat (23/11). Bedanya, kali ini Jokowi menggunakan kata tabok. Bukan gebuk lagi.

Di Lampung, Jokowi melakukan beragam kegiatan. Pagi hari, meninjau pembangunan Jalan Tol Bakauheni - Terbanggi Besar Seksi III: Kota Baru - Metro, dan bersilaturahmi dengan ulama pimpinan pondok pesantren se-Lampung. Sorenya, Jokowi menyerahkan 1.300 sertipikat hak atas tanah, di Gedung Lapangan Tenis Indoor Gunung Sugih, Kabupaten Lampung Tengah.

Di tempat inilah, Jokowi menyinggung soal PKI. Awalnya, Jokowi bicara kepemilikan sertipikat atas tanah. Masyarakat tak perlu lagi khawatir akan status tanah yang mereka miliki, karena dapat dibuktikan dengan sertipikat. Setelah itu, Jokowi bicara soal hoaks yang makin gencar di musim kampanye. Jokowi mengaku, sejak Pilpres 2014 kerap difitnah sebagai anggota PKI.

Padahal, tegas Jokowi, saat PKI dibubarkan tahun 1965, ia masih berusia 4 tahun. "Coba di medsos, itu ada (foto) DN Aidit pidato tahun 1955. Kok saya ada di bawahnya? Lahir saja belum, astaghfirullah. Saya lihat di gambar kok persis saya. Ini yang kadang-kadang, mau saya tabok, orangnya di mana. Saya cari betul," katanya dengan nada dan mimik jengkel.

Hal yang membuat Jokowi lebih geram, banyak masyarakat yang mempercayai fitnah itu. Padahal sudah ada fakta dan dirinya berulang kali mengklarifikasi. "Enam persen (rakyat) percaya berita ini. Enam persen itu sembilan juta (penduduk) lebih lho. Kok percaya? Lahir saja belum, kok ada di bawah podium Aidit," ucapnya.

Selain soal PKI, Jokowi juga menepis soal fitnah antek aseng dan asing. Jokowi mempertanyakan dasar tuduhan itu. Untuk mematahkan tuduhan itu, Jokowi kasih bukti bahwa dirinya sangat pro-nasionalisme. Misalnya,  pemerintah kini telah mengambil alih Blok Rokan, Blok Mahakam. Bahkan, Freeport yang selama ini dikuasai asing. Jokowi juga bicara soal tuduhan negara lebih memanjakan tenaga kerja asing, khususnya China.

Jokowi memastikan, tenaga kerja asing yang ada di Indonesia hanya 0,03 persen dari total masyarakat. Terakhir, Jokowi bicara isu kriminalisasi ulama. "Saya tiap hari dengan ulama. Tiap hari, tiap minggu keluar masuk pondok pesantren. Kriminalisasi yang mana? Jangan isu seperti ini yang dipercayai. Berbahaya sekali," ucapnya. Jokowi meminta masyarakat cerdas menyikapi perkembangan kabar di media sosial. Jangan sampai persatuan terkoyak karena hoaks.

Di tempat terpisah, polisi menyatakan telah menangkap salah satu pembuat hoaks PKI. Namanya Jundi Kurniawan. Dia ditangkap Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri, 15 Oktober lalu di wilayah Aceh. Dalam melancarkan aksinya, Jundi kerap berganti-ganti akun Instagram.

Kata Kepala Subdirektorat I Dittipidsiber Bareskrim Polri Komisaris Besar Dani Kustoni, akun-akun Instagram tersebut dibuat oleh Jundi secara berkala, setelah salah satu akun dibekukan oleh pengelola Instagram. Jumat (23/11), polisi memamerkan tersangka di kantor sementara Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Tanah Abang.

Tersangka mengaku membuat unggahan ujaran kebencian, karena kurang menyukai cara kebijakan Jokowi. Antara lain, kerap menaikkan harga sejumlah barang tanpa pemberitahuan.Dia mengaku, hal tersebut melatarbelakangi aksinya menyebarkan berbagai konten ujaran kebencian terkait Jokowi, lewat sejumlah akun Instagram yang dibuatnya sejak akhir 2016.

Salah satu konten itu ialah tudingan bahwa Jokowi pengikut PKI. Sementara itu, Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Mardani Ali Sera, menyoroti kata "tabok" yang disampaikan Jokowi. Dia yakin, pemilihan kata ini tidak kosong makna. Pasti ada motif di belakangnya.

Dicontohkannya, ide ternak kalajengking yang jadi bagian dari spin doctor untuk mengalihkan perhatian publik dari isu utama. Menurut Mardani, ada dua faktor penyebab munculnya diksi tabok ini. Pertama, Paket Ekonomi Pemerintah ke-16 yang mendapatkan banyak penolakan di internal koalisi, karena dianggap melemahkan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Kedua, Jokowi sudah mulai khawatir dengan pemberitaan positif Prabowo - Sandi yang diterima masyarakat luas. [BCG]

RM Video