Stok Melimpah, Tapi Harga Naik

Beras Kita Aneh Tapi Nyata

Ilustrasi stok beras (Foto: katadata.co.id)

Rakyat-Merdeka.co.id - Harga beras di Indonesia aneh tapi nyata. Stok melimpah ternyata tak mampu menekan harga di pasaran. Yang ada, harga bahan pangan ini malah naik. Agar harga stabil, pemerintah terus melakukan operasi pasar untuk menekan harga. Data melimpahnya stok beras disampaikan Direktur Operasional Pelayanan Publik Badan Urusan Logistik (Bulog) Tri Wahyuni Saleh.

Dipastikan, stok beras aman hingga akhir tahun. Saat ini, gudang Bulog menampung lebih dari 2 juta ton beras. Masalahnya, stok beras yang melimpah itu tidak berbanding lurus dengan turunnya harga beras. Misalnya, harga beras jenis medium di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC).

Salah satu pedagang beras di PIBC, Yono mengatakan, saat ini beras medium dijual dengan harga Rp 9.200 hingga Rp 10.300 per kg. Angka ini meningkat dari sebelumnya di kisaran Rp 8.000-an per kg. "Kalau medium ini sudah Rp 9.200 sampai Rp10.300 per kg sekarang. Waktu itu, masih Rp 8.000-an," jelas Yono di PIBC, Jakarta, Kamis (22/11).

Kenaikan harga beras, dipengaruhi oleh harga gabah yang tinggi. Pasalnya, produksi saat ini berkurang mengingat cuaca memasuki musim hujan. Pedagang lainnya, Zulkifli mengatakan saat ini harga jual  beras dipatok di angka Rp 9.225 per kg. Angka ini dianggap tinggi karena mendekati harga eceran tertinggi (HET) Rp 9.450 per kg.

Direktur Operasional Pelayanan Publik Bulog Tri Wahyuni Saleh menyimpulkan, kenaikan di masyarakat baru 0,15 persen. Menurutnya? kenaikan yang terjadi masih relatif kecil  Namun, pemerintah langsung melakukan tindakan preventif untuk menstabilkan harga. "Kenaikannya baru 0,15 persen," ucap Tri.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan ada anomali pada kondisi pangan. Dia mengatakan stok beras melimpah, tetapi masih ditemukan harga beras dijual di atas HET. "Ada anomali hari ini. Kami yakin. Karena supply cukup, bahkan berlebih. Stok Bulog cukup. Satu bulan lagi kita mau panen, tapi harga naik. Ini ada anomali," kata Amran.

Tri memastikan, pihaknya siap memasok beras medium ke Pasar Cipinang melalui operasi pasar sebanyak 2.000 ton per hari. Permulaan, operasi pasar kemarin dilakukan sebanyak 100 ton beras medium. "Insya Allah. Dengan kami mulai (operasi pasar) hari ini di Cipinang yang menguasai 20 persen beras di seluruh Indonesia, saya kira ini akan mempengaruhi harga yang ada," kata Tri, pede.

Saat ini, Tri menyebut ketersediaan beras medium di gudang Bulog mencapai 2,4 juta ton. Dengan jumlah tersebut, ia memastikan Bulog mampu mencukupi kebutuhan beras medium untuk operasi pasar. "Bulog masih memiliki stok yang cukup. Jadi, tidak usah khawatir," imbuhnya.

Dirut Bulog, Komisaris Jenderal (Purn) Budi Waseso yang akrab disapa Buwas menyatakan, persoalan beras medium kerap kali menjadi persoalan di tengah masyarakat. Masalah bukan pada ketersediaan beras itu, melainkan jangkauan Bulog yang terbatas untuk menyalurkan beras medium dengan harga murah. Bulog merinci, distribusi beras medium masih terlalu banyak pihak yang berperan. Akibatnya, dimanfaatkan sekelompok orang untuk mendapat keuntungan lebih.

"Jaringan terlalu panjang, dan itu dimanfaatkan oknum pedagang, dan pihak tertentu mendapat keuntungan lebih. Ini merugikan masyarakat kelas menengah ke bawah," kata Buwas.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus tak terlalu terkejut dengan anomali harga beras. Menurutnya, ada yang salah dengan mata rantai perjalanan beras. "Intervalnya terlalu jauh. Ini bisa tuntas jika infrastruktur sudah jadi," ujar Heri kepada Rakyat Merdeka. Menurutnya, pemerintah terlalu takut kekurangan beras dengan memutuskan impor beras. Ini karena kurangnya ketersediaan beras bisa membuat instabilitas keamanan. Nah, faktor ini juga yang membuat instabilitas harga beras. [BSH]

RM Video