Bandingkan Dengan Malaysia

JK Heran Masjid Di Sini Rajin Kritik Pemerintah

Wapres Jusuf Kalla, membuka Rapat Kerja Nasional AMKI di Jakarta, Sabtu (10/11). (Foto: FB @Muh. Jusuf Kalla)

Rakyat-Merdeka.co.id - Wapres Jusuf Kalla (JK) membandingkan kondisi masjid di Indonesia dengan Malaysia. Di negeri jiran, khotbah diisi dengan mendoakan raja. Sementara di sini, JK heran, khotbah masjid isinya sering mengkritik pemerintah. Perbandingan itu dikemukakan JK saat memberi sambutan dalam Rakernas Asosiasi Masjid Kampus Indonesia (AMKI) di Gedung Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Jakarta, Sabtu (10/11).

“Khotbah di Malaysia itu tersentralisasi, karena itu pembukaan khotbahnya pertama selalu mendoakan raja. Di kita mana ada mendoakan Presiden? Malah selalu mengkritik Presiden. Nah, bahayanya di situ,” ujar JK. Menurut Ketua Dewan Masjid Indonesia ini, perbedaan terjadi lantaran di Malaysia, sebagian besar masjid dibangun oleh negara. Karena itu, khotbah tersentralisasi, seragam. “Ada yang menulis khotbahnya di depan masjid agung. Itu ada kantor besar, semua dibikin di situ,” beber JK. 

Karena dibangun dan dikelola negara, di Malaysia, pegawai masjid termasuk marbot, berstatus pegawai negeri. Sementara di Indonesia, kecuali Istiqlal, dibangun dan diurus oleh masyarakat. Masjid di kampus Indonesia malah diketuai oleh profesor-profesor. “Mana ada di negeri lain, ketua masjid itu profesor?,” katanya.

Perbedaan lain yang dinilai mencolok adalah keberadaan kotak amal di masjid. Di negara lain, tak ada kotak amal. Tak heran, menurut JK, Indonesia dinobatkan sebagai negara paling dermawan di dunia. Mengutip laporan Charities Aid Foundation World Giving Index per Oktober 2018, Indonesia menempati posisi teratas dari 144 negara yang disurvei oleh lembaga ini. “Kita tiap kali ke masjid, siapkan duit untuk beramal. Di luar negeri, mana ada kotak amalnya. Di Malaysia, juga tidak ada,” jelas JK. “Bukan dermawan, memang begitu harus dermawan. Kalau tidak begitu siapa yang ngurus masjid itu,” imbuhnya.

Dia menuturkan, ada berbagai faktor yang membuat masjid dan mushala di Indonesia banyak dibangun. Selain karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, juga dipengaruhi pola waktu kerja, yaitu 5 hari kerja termasuk Jumat. JK mengatakan, saat hari kerja diterapkan 6 hari, masjid tidak sebanyak sekarang. Sebab, para pegawai hanya bekerja sampai pukul 11 siang di hari Jumat.

Jumlah masjid itu juga diungkapkan JK, ketika bertemu Raja Arab Saudi, Raja Salman bin Abdulaziz. “Saya bilang, saya juga ini pengurus masjid di Indonesia. Oh beliau gembira, dan (saya bilang) masjid di Indonesia 800 ribu,” ungkapnya. Mendengar itu, Raja Salman kaget. Dia sampai bertanya pada intrepreter alias penerjemahnya dan Dubes Arab Saudi untuk memastikan, apakah JK bilang 8 ribu atau 800 ribu. “Baru dia agak sedikit merendah,” imbuhnya.

Menurut JK, satu hari sebelum bertemu Raja Salman, dia memang sempat memikirkan cara untuk mengalahkan dan membuatnya takjub. Sebab, kata JK, Raja Salman memiliki segalanya. Dia terpikirkan menyebut jumlah masjid di Indonesia yang cukup banyak. “Dan dia terheran-heran,” seloroh JK, bangga.

Kembali ke soal khotbah, JK meminta pembentukan kurikulum khotbah di masjid kampus. Tak mesti menyeragamkan konten khotbah. Yang penting, isinya bisa memotivasi mahasiswa memperoleh pemahaman agama yang baik. Kurikulum itu bisa menetapkan tema tertentu setiap bulannya. [OKT]

RM Video