Teriakan Keluarga Korban ke Big Bos Lion

Diminta Berdiri, Rusdi Tidak Bereaksi

Bos Lion Air Rusdi Kirana, saat diminta berdiri oleh M Bambang Sukandar, yang merupakan keluarga penumpang manifes 154 Pangki Pradana Sukandar. (Foto: Rizky Syahputra/RM)

Big Bos Lion Air Rusdi Kirana, jadi bulan-bulanan keluarga korban Lion Air JT610 rute Jakarta-Pangkalpinang yang jatuh di perairan Tanjung Karawang, Senin (29/10). Menghadiri pertemuan dengan keluarga korban, Senin (4/11),Rusdi disuruh berdiri. Dubes Indonesia untuk Malaysia itu membisu. Berdiri. Menundukkan kepala sambil mengangkat kedua tangan tanda permohonan maaf.

Pertemuan tersebut dilakukan di Hotel Ibis Cawang. Ratusan keluarga korban berkumpul untuk mendengarkan penjelasan proses evakuasi, yang sudah dilaksanakan selama satu minggu. Selain Rusdi, hadir juga Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi, Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Muhammad Syaugi, Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjo, serta Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Kapusdokkes) Polri Brigjen Arthur Tampi. 

Rusdi diminta berdiri oleh M Bambang Sukandar. Bambang adalah keluarga dari penumpang bernama Panky Pradana Sukandar. Saat itu, Bambang tengah melontarkan pertanyaan ke Menhub Budi Karya. Sebelum menyelesaikan pertanyaannya, dia meminta Rusdi yang duduk di barisan kursi depan, untuk berdiri. “Saya mohon Pak Rusdi Kirana berdiri. Saya mau lihat, sejak hari pertama, saya tidak tahu seperti apa rupanya,” pinta Bambang.

Mendengar permintaan itu, Rusdi Kirana berdiri. Dia kemudian menghadap ke arah keluarga korban. Tangannya ditelungkupkan, isyarat meminta maaf. Kepalanya terus ditundukkan. Hanya beberapa detik dia berdiri. Bambang kemudian meminta kepada Rusdi memperbaiki manajemen Lion Air. “Jangan sampai kejadian ini berulang, sudah banyak sekali. Saya nggak maksud mendiskreditkan Lion Air, tapi inilah kenyataan yang ada. Anakku 29 tahun, Pak. Kerja di Bangka Belitung. Anaknya satu, putri berusia 4 tahun. Pilihan ke sana nggak ada lagi, selain Lion,” ujar Bambang. 

Air mata menggenang di pelupuk matanya. Dia memohon kepada pemerintah untuk menambah maskapai penerbangan lain, agar ada pilihan. Bambang kemudian meminta Kementerian Perhubungan memberikan sanksi tegas, terhadap teknisi yang mengizinkan Lion Air PK-LQP terbang. Sebab, dia mendapat info bahwa pesawat itu sudah rusak pada penerbangan sebelumnya. “Apakah perbaikan sudah clear Bapak Menteri? Dalam hal ini, teknisi harus bertanggung jawab penuh karena menyatakan pesawat clear untuk take off lagi. Tolong diproses hukum, teknisi yang nggak benar itu,” ujarnya sembari menahan tangis. “Nyawa 100 orang lebih ini. Hukumnya mutlak bertanggung jawab karena menyatakan pesawat clear untuk take off kembali,” imbuhnya.

Salah satu keluarga korban bernama Najib Furqoni, yang merupakan ayah Shandi Johan Ramadhan, juga “menyerang” Rusdi. Johan awalnya menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasinya terhadap Basarnas. “Kami merasa tersanjung dengan evakuasi korban, khususnya Pak Syahrul Anto, pahlawan kami,” tuturnya.

Kemudian, dengan suara lantang, dia menyebut Rusdi dengan Lion Air-nya bertanggung jawab sepenuhnya atas musibah pesawat dengan register PK-LQP tersebut. “Tapi tidak untuk Lion Air. Maka khususnya Rusdi Kirana, saya anggap gagal. Maaf saya tidak ingin jadi provokator dan perdebatan,” tegasnya. Sontak, riuh tepuk tangan dari para keluarga korban lainnya bergemuruh di ruangan itu. Seolah, menyetujui pernyataan Najib. Menurut dia, kinerja Lion amatlah buruk. Soalnya, ini bukan kali pertama maskapai berlambang singa terbang itu bermasalah. “Saya ingin perhatian Pak Rusdi dan tim,” imbuh Najib.

Tak hanya itu, Najib juga kesal karena hingga saat ini, dia tidak pernah dihubungi oleh pihak Lion Air. Padahal, maskapai adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas peristiwa ini. “Kami keluarga korban perlu dirangkul, tapi tak ada satu pun keluarga korban yang dihubungi Lion Air. Kami kehilangan anak terkasih, bukan barang yang dibuang ke laut, tolonglah. Tidak ada empati sama sekali dari Lion,” tegasnya. “Jangankan empati, telepon pun tidak,” tegas Najib, meluapkan kekesalannya.

Sebelumnya, Selasa (30/10), Rusdi sebetulnya sudah menemui keluarga korban di Hotel Ibis. Saat itu, eks anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) ini menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga korban atas kecelakaan pesawat Lion Air JT 610. “Saya mohon maaf apa pun juga, alasan apa pun. Saya sedang berusaha yang terbaik,” tutur Rusdi yang berurai air mata. Rusdi mengaku syok dan sedih atas jatuhnya pesawat yang mengangkut 189 orang itu.

“Saya turut berduka cita, saya juga sedih. Saya juga terus terang sangat syok,” ucap Rusdi kepada salah satu keluarga korban. Rusdi menyampaikan, pihak Lion Air akan memberikan uang Rp 5 juta untuk keluarga korban. Uang itu di luar kompensasi. Selain itu, nantinya Lion Air juga akan memberikan Rp 25 juta kepada keluarga korban yang jenazahnya sudah ditemukan. Uang itu untuk biaya pemakaman. Rusdi juga mengatakan Lion Air siap diaudit. Juga, siap menerima sanksi bila ditemukan ada kesalahan manajemen. Sementara, Menhub Budi Karya menyatakan, saat ini pihaknya telah menjalankan proses audit kepada 11 pesawat Boeing milik Lion Air dan satu spesial audit untuk awak dan teknisi.

Terpisah, Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengungkapkan, pesawat Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT610 jenis Boeing 737 Max 8, bermasalah dengan alat penunjuk kecepatan dalam 4 penerbangan terakhir. Untuk itu, KNKT meminta kepada National Transportation Safety Board (NTSB) dan Boeing agar  menindaklanjuti temuan tersebut, guna mencegah kecelakaan serupa terulang. “Pada empat penerbangan terakhir, ditemukan kerusakan pada alat penunjuk kecepatan atau air speed indicator di pesawat,” ungkap Soerjanto dalam konferensi pers di Gedung KNKT, kemarin.

Menurutnya, pesawat Lion Air JT610 itu sempat mengalami masalah teknis pada rute penerbangan Denpasar menuju Jakarta. Ketika membuka kotak hitam, masalahnya terdapat di petunjuk kecepatan. Begitu ada masalah, seperti diungkapkan Soerjanto, pilot kemudian menulis dan mekanik memperbaiki. Hal tersebut kini sedang diteliti KNKT, apakah tindakan teknisi pesawat Lion Air sudah tepat atau tidak. Apakah komponennya ada yang dicopot atau tidak. “Tapi, hasil investigasi ini masih jauh. Yang kami sampaikan hanya faktanya saja,” ujar Soerjanto. [OKT]

RM Video