Muncul Poster “Raja Jokowi”

Banteng Ngamuk Di Kandang

Kader PDIP sedang mencopot poster ‘Raja Jokowi’. (Foto : Istimewa)

Rakyat-Merdeka.co.id - Tensi pertarungan di Pilpres 2019 semakin panas. Banyak kampanye negatif dan kampanye hitam berseliweran di masyarakat. Terbaru, Presiden Jokowi
digoyang kampanye hitam poster ‘Raja Jokowi’.

Tak tanggung-tanggung, kejadiannya pun di kandang PDIP, Jawa Tengah yang selama ini menjadi basis suara pasangan nomor urut 01 Jokowi-Ma’ruf Amin.   Di dalam poster itu, tampak foto Jokowi mengenakaan pakaian seorang raja, lengkap dengan mahkota di kepalanya. Lalu ada tulisan yang mengajak kepada masyarakat untuk bekerja. “Ayo kita bekerja untuk rakyat” lengkap dengan lambang PDIP dan nomor urut 3 nya.

Dari keterangan Ketua DPD PDIP Jateng Bambang Wuryanto, poster ‘raja Jokowi’ ini sudah tersebar di 27 Kabupaten Kota di Jawa Tengah. Termasuk yang dipasang di belakang angkutan umum berupa stiker. Bambang yang merasa tidak memasang dan terganggu dengan poster itu, mengintruksikan kepada seluruh kader di 27 Kabupaten dan kota untuk menurunkan dan mencopotnya. 

Ia menduga pemasangan poster tersebut untuk downgrade campaign yang merugikan pihaknya. Namun ia belum memastikan apakah si pemasang poster merupakan lawan politik.
Namun, jika ada pihak yang merasa keberatan dan ingin mengambil poster yang sudah diturunkan untuk mengambinya ke kantor DPD PDIP. “Kami simpan di kantor partai. Kalau yang punya rontek, kalau yang punya rontek mau ambil ya silakan datang ke kantor partai kami," ujar.

Komentar Bambang yang merasa dikerjain diiyakan warganet. Di kolom detik.com, Septi mengakui jika gambar dan poster Jokowi lengkap dengan mahkota sudah tersebar hampir di seluruh Jawa Tengah, termasuk di wilayahnya.
“Di daerah kami gambar Jokowi memakai mahkota sudah tertempel di angkot-angkot, saya melihatnya memang sudah tidak berkenan karena apa tidak ada lagi foto Jokowi yang baik. Saya melihat ini ulah oposisi, tapi saya angkat topi karena ide yang cemerlang oposisi walau licik sekali,” ujarnya dengan curiga.

Yoseph Kurniadi menduga poster ini memang sengaja disebar di Jawa Tengah untuk mendiskriditkan figur Jokowi sehingga rakyat menjadi antipati. Makanya, segala trik dilakukan demi menjatuhkan Jokowi. “Tangkap sampai akar-akarnya sang pembuat poster yang mau bikin masalah. Jokowi is the best. Nggak perlu pencitraan,” ujar Mohamad Dawud.


Audy memandang aksi seperti ini seharusnya segera dilaporkan ke pihak berwajib dan sekaligus ke KPU. Sudah keterlaluan. Hentikan juga saling balas-membalas puisi, lagu dan sebagainya. “Sungguh menurut saya ini kampanye-kampanye negatif dan memalukan. Ngga mutu,” tegas dia.

Desakan agar kasus kampanye hitam ini dilaporkan ke Bawaslu dan polisi juga diuratakan oleh Hendriasto. Baginya, laporan akan diproses ke Bawaslu dan Polri biar terang benderang. Tidak menebar fitnah tambahan, walaupun sudah berbau fitnah poster-posternya. “Jika memang dari luar kubu atau mungkin dari oknum di kubu sendiri ya diterima sebagai realitas tahun politik, daripada ngambang dan jadi fitnah yang bermaca- macam.”

Hendro Hindarto Rahardjo mendesak pihak kepolisian dan Bawaslu mengejar pembuat dan penyebar poster 'Jokowi raja', karena kalau sudah black campain itu urusan polisi dan Bawaslu. Tangkap supaya jelas siapa dalang semuanya. “Nah ini nih @KPU_ID jangan diam saja kalau ada black campaign begini,” desak Danny? @danselstory.

Sebaliknya, Rey Aja? @ReyArton justru mencurigai jika poster raja Jokowi ini hanya akal-akalan untuk menjatuhkan lawan politiknya. Kecurigaan itu, karena poster yang dipasang cukup banyak dan dipasang dibasis PDIP. “Masak gak ketahuan siapa yang masang, jangan-jangan terlanjur ke pasang, lalu baru sadar kalau itu senjata makan tuan,” duganya.

Lebih tajam lagi, adi siswanto? @81_adi menduga jika poster yang disebar hampir diseluruh Jawa Tengah itu justru miliknya PDIP sendiri. Jadi, yang pasang, yang mecopot, yang ribut. “Ya dia dia juga,” katanya diamini Tikno Junior? @JuniorTikno. “Pasang kader sendiri. Diributin sendiri. Kalau ingin tahu coba tanya warga sekitarnya PDIP atau bukan ?” katanya.
Tak kalah menohok, dayat? @dayat40317698 mengatakan jika rakyat Indonesia tidak bodoh dalam melihat kejadian seperti ini. “Hahaha emang rakyat bodoh bro, gak punya otak. Ini namanya pasang sendiri dilucuti sendiri tapi salahkan kubu sebelah,” ungkapnya.

Ahmad Dani menimpali tuduhan bahwa yang dilakukan PDIP hanya untuk menyudutkan kubu sebelah, tetapi, rakyat tidak akan percaya begitu saja. “Pasang, pasang sendiri, ribut ribut sendiri, mungkin ulah kader yang pupujieun.”
“Ya pertanyaannya. Jika bukan anggota PDIP yang buat. Siapa lagi?? Itu kandangmu sendiri loh. Masa kandang sendiri dipasangin kalian nggak tau?? Udah lah. Ngaku aja Kong Jirun. Lempar batu sembunyi tangan ngaku sebagai korban. Udah gak aneh,” sindir Argon789.

Netral Gundala menuturkan ini adalah kerjaan sendiri yang mencoba menyalahkan pihak lawan karena citra Jokowi yang lagi jelek-jeleknya. Begitupun dengan Ichwanul mustojib yang menegaskan jika yang memasang timses sendiri tetapi nuduh orang lain. 

“Hayo buka saja, kalau gak berani buka berarti dari kalangan sendiri.. Wkwkwkwk,” ejek Jefri Priambodo yang dikuatkan Fahru Dain jika PDIP sedang melakukan politik maling teriak maling. 
A A Aisyah? @aidonkerr memprediksi jika sikap PDIP yang mengelak dan menuduh pihak lain supaya mendapatkan simpati dari masyarakat. “Enak banget ya jadi politisi, ngelakuin blunder, tinggal playing victim aja.” Senada, Zamal ludin ama? @zamalludinamaa juga demikian. “Playing victim nichhhh.”

Rey Aja? @ReyArton menyatakan, kalau tim Prabowo mau kampanye negatif, harusnya tulisan poster itu bukan "ayo kita bekerja untuk rakyat" tapi "jangan coblos tukang tipu"... Supaya PDIP tidak dianggap berpura-pura, Umar Yanto mendesak agar melaporkan ke polisi secara tertulis ke bareskrim, nangtinya akan ketahuan siapa biang keladinya.


Usulannya disambut baik oleh Jonslo. Dia juga sangat mendukung jika dilaporkan ke polisi. “Laporkan ke polisi saja kalau ada dugaan pencemaran nama baik.” Kemudian dilanjutkan Gunawan Trihadi Putra yang menganggap kalau tidak berani melaporkan berarti hanya modus. “Kalau gantle lapor polisi aja menurut saya. Tidak perlu melakukan penyelidikan dan penyidikan sendiri. Sangat berbahaya dan bias.”

Masih dengan desakan yang sama, Nuranianda mengusulkan lapor polisi dan usut. Apalagi di beberapa daerah ada cctv yang bisa digunakan sebagai barang bukti. Jangan manfaatkan kampanye hitam untuk jatuhkan lawan atau menuduh lawan. Itu baru fair.

“Jangan cuma omong, silahkan lapor polisi dan cari tahu siapa yang masang, jika tahu tindakan pindana kok cuma koar-koar saja!” kata Herdian Alamsyah. Berikutnya, Pearson menyarankan dibentuk team pencari fakta untuk mencari kebenarannya. Tim ini untuk meminimalisir tidak saling tuduh diantara tim pasangan calon.  Mengakhiri, Koko Tomo meminta kepada kedua pasangan capres untuk menahan diri dan tidak melontarkan tuduhan yang tidak berdasar. “Hati hati. Di negara kita yang agamis ini banyak orang-orang yang jahat. Jangan mudah dihasut dan kuatkan keimanan dan keyakinan masing masing,” tuntasnya. [REN]

RM Video