Kasus Suap Proyek PLTU Riau-1

KPK Bakal Usut Uang Rp1 Miliar dari Samin Tan Untuk Eni Saragih

Eni Maulani Saragih, tersandung kasus suap PLTU Riau-1. (Foto: M Qori Haliana/Rakyat Merdeka)

Rakyat-Merdeka.co.id - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bakal mengusut berbagai pemberian suap lainnya untuk Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Eni Maulani Saragih. Salah satu yang diusut KPK adalah pemberian uang Rp 1 miliar dari pemilik perusahaan batu bara PT Borneo Lumbung Energi & Metal, Samin Tan.

Pemberian uang Rp1 miliar itu terungkap dalam persidangan terdakwa Johanes Budisutrisno Kotjo. Samin Tan disebut oleh saksi Tahta Maharaya, pernah memberikan uang Rp 1 miliar untuk anggota Komisi VII DPR RI, Eni Maulani Saragih melalui stafnya. KPK akan mendalami fakta persidangan itu. “‎Tentu, kami akan mempelajarinya, sejauh apa fakta di persidangan itu bisa dikembangkan,” kata Wakil Ketua KPK Saut Situmorang saat dikonfirmasi, Senin (19/11). 

Eni Maulani Saragih mengaku pernah menerima uang, selain dari proyek pembangunan PLTU Riau-1. Menurut Eni, berbagai penerimaan lainnya itu  kemungkinan akan dibeberkan tim jaksa KPK dalam dakwaannya. “Y‎a, memang saya ada penerimaan yang lain. Sudah saya sampaikan ke penyidik. Nanti kita lihat di surat dakwaan saja,” ‎kata Eni usai menjalani pemeriksaan tahap akhir dalam proses penyidikan di Gedung Merah Putih KPK, Jumat (9/11).

Politikus Golkar itu juga berjanji akan kooperatif dengan KPK, sejalan dengan permohonan Justice Collaborator (JC) yang telah diajukannya. Dia akan membeberkan keterlibatan pihak lain, termasuk soal uang yang diterimanya dari pemilik perusahaan batu bara PT Borneo Lumbung Energi dan Metal, Samin Tan. “Nanti aja (soal peran Samin Tan) ntar habis dong‎. Insya Allah‎ (akan dibeberkan),” janjinya.
Samin Tan adalah ‎salah satu saksi penting yang dicegah untuk berpergian ke luar negeri, selama enam bulan ke depan. Samin Tan dicegah ke luar negeri berkaitan dengan kasus dugaan suap kesepakatan kontrak kerja sama PLTU Riau-1. 

Samin Tan juga sudah pernah diperiksa KPK pada 13 September silam sebagai saksi. Saat itu, penyidik mendalami hubungan atau kerja sama antara Samin Tan dengan tersangka Idrus Marham.
Sejauh ini, KPK baru menetapkan tiga orang sebagai tersangka kasus dugaan suap kesepakatan kontrak kerjasama PLTU Riau-1. Yakni Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih, Bos Blackgold Natural Resources Limited Johanes B Kotjo, dan mantan Menteri Sosial Idrus Marham.

Eni diduga bersama-sama Idrus, menerima hadiah atau janji dari Kotjo. Eni diduga menerima uang sebesar Rp 6,25 miliar dari Kotjo secara bertahap. Uang itu adalah jatah Eni untuk memuluskan perusahaan Kotjo menggarap proyek senilai 900 juta dolar AS. Penyerahan uang kepada Eni tersebut dilakukan secara bertahap, dengan rincian Rp 4 miliar pada medio November-Desember 2017 dan Rp 2,25 miliar pada medio Maret-Juni 2018‎. 

Idrus juga dijanjikan mendapatkan jatah yang sama, jika berhasil meloloskan perusahaan Kotjo.  ‎Johanes Kotjo sendiri telah didakwa oleh Jaksa Penuntut Umum pada KPK. Sementara Eni, berkasnya telah dilimpahkan ke tahap penuntutan, dan akan segera disidang. Untuk Idrus Marham, saat ini masih dalam proses penyidikan di KPK. [OKT]
 

RM Video